Tarif Dinaikkan, Sengketa Dagang AS-China Kian Keruh

 Presiden AS Donald Trump akan menambah tekanan tarif untuk China dengan meningkatkan besaran tarif impor yang tadinya 10% menjadi 25%
Dwi Nicken Tari | 02 Agustus 2018 18:29 WIB
. - .Bloomberg
Bisnis.com, JAKARTA - Presiden AS Donald Trump akan menambah tekanan tarif untuk China dengan meningkatkan besaran tarif impor yang tadinya 10% menjadi 25%.
 
Pejabat Pemerintahan Trump mengumumkan pada Rabu (1/8/2018), tarif tersebut akan dikenakan untuk produk impor asal China yang senilai US$200 miliar.
 
Kepala Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer menyebut kenaikan tarif tersebut karena China tidak mengindahkan permintaan AS terkait hubungan dagang dan malah membalas tarif yang sebelumnya diberlakukan AS.
 
"Kenaikan tarif tambahan tersebut dilakukan supaya China mengubah kebijakan dan sikapnya yang merugikan, serta agar China mengadopsi kebijakan yang adil dan membuat masyarakat kita sejahtera," kata Lighthizer melalui pernyataan, seperti dikutip Reuters, Kamis (2/8/2018).
 
Adapun secara keseluruhan, tarif yang akan diberlakukan Trump terhadap China mencapai US$500 miliar atau setara dengan seluruh impor China ke AS.

Seiring dengan kenaikan tingkat tarif ini, USTR pun akan memperpanjang masa konsultasi publik hingga 5 September 2018, sebelumnya pada 30 Agustus 2018. Setelah itu, tarif akan mulai resmi diberlakukan.

China pun merespons bahwa ancaman dari AS tersebut tidak akan berhasil dan bahwa China akan membalas tarif-tarif itu dengan pengukuran yang sama.

"Tekanan AS dan ancamannya tidak akan berdampak. China akan mengambil langkah pembalasan untuk melindungi kepentingannya jika AS terus mengambil langkah yang berlebihan," kata Juru Bicara Menteri Luar Negeri China Geng Shuang.

Sementara itu, sejak AS dan China saling memberlakukan tarif sebesar 25% untuk produk impor masing-masing negara pada bulan lalu, keduabelah pihak masih belum memperlihatkan tanda-tanda untuk kembali berunding.
 
Dua orang pejabat Pemerintah AS menyebut bahwa Trump masih terbuka dengan komunikasi bersama China. Selain itu, sejatinya saat ini masing-masing perwakilan dari China dan AS tengah melangsungkan pertemuan informal mengenai kemungkinan negosiasi di level tinggi.
 
"Kami tidak memiliki apapun untuk diumumkan mengenai pertemuan tertentu, atau putaran perundingan tertentu. Namun, komunikasi tetap terbuka dan kami berupaya mencarikan kondisi yang dapat membuat keduabelah terhubung," ujar salah satu sumber tersebut.
 
Derek Scissors, seorang pelajar di American Enterprise Institute di Washington, menilai tarif 25% itu dipastikan dapat menghambat seluruh impor dari China ke AS. Dengan kata lain, AS akan menggeser rantai penawarannya ke negara lain.
 
"Hal itu membuat AS lebih fleksibel dan ancamannya menjadi lebih serius," ujarnya sambil menambahkan bahwa ancaman Trump akan tidak berguna jika AS tidak segera menyelesaikan perselisihan dengan Uni Eropa, Meksiko, dan Kanada.
 
Di sisi lain, kelompok pelobi bisnis AS semakin khawatir dengan ancaman-ancaman Trump tersebut. Pasalnya, aksi saling balas tarif dapat melemahkan pertumbuhan ekonomi.

"Eskalasi tarif dengan China adalah langkah yang salah untuk melindungi pebisnis AS dari praktik China yang merugikan," ujar Myron Brilliant, Kepala Hubungan Internasional di Kamar Dagang AS.

Pasalnya, dia menjelaskan, setiap tarif yang dikenakan untuk negara manapun akan memicu retaliasi tarif yang nantinya menjadi bumeranh bagi pebisnis, pekerja, petani, peternak, dan konsumen AS

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top