Meskipun Tensi Dagang Memanas, Ekspor China Menguat pada Juli

Ekspor China melaju pada Juli kendati Amerika Serikat telah memberlakukan tarif impor. Selain itu, surplus perdagangan China dengan Negeri Paman Sam juga tetap berada di dekat level tertingginya.
Dwi Nicken Tari | 08 Agustus 2018 18:10 WIB
Ekonomi China. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Ekspor China melaju pada Juli kendati Amerika Serikat telah memberlakukan tarif impor. Selain itu, surplus perdagangan China dengan Negeri Paman Sam juga tetap berada di dekat level tertingginya.

Data dari Administrasi Umum Bea dan Cukai China menunjukkan tingkat ekspor Negeri Panda tumbuh ke level 12,2% dibandingkan tahun sebelumnya, atau di atas perkiraan ekonom di level 10%. Adapun, ekspor China hanya naik menjadi 11,2% pada Juni.

Begitu pula impor China, melaju dengan cepat pada Juli sebesar 27,3%, atau jauh di atas perkiraan ekonom sebesar 16,2% ditopang oleh permintaan domestik yang solid dan penjualan komoditas seperti tembaga dan besi yang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu pada Juni, pertumbuhan impor Negeri Panda hanya sebesar 14,1%.

Data tersebut merupakan rilis data perdagangan yang pertama sejak China dan AS memberlakukan tarif impor sebesar 25% untuk produk impor nasing-masing negara yang senilai US$34 miliar.

Sementara itu, surplus perdagangan China dengan AS tetap berada di dekat rekor tertingginya, kendati turun tipis menjadi US$28,09 pada bulan lalu. Pada Juni, surplus dagang China-AS sempat mencetak rekor tertinggi di level US$28,97.

Analis memperkirakan neraca perdagangan China dalam beberapa bulan ke depan masih akan menjadi masalah dan memicu tarif-tarif tambahan dari Amerika Serikat.

“Untuk beberapa bulan ke depan, kami memperkirakan pertumbuhan ekspor akan mendingin, yang lebih disebabkan oleh pelemahan permintaan global alih-alih akibat tarif AS,” kata Julian Evans-Pritchard, Ekonom Senior di Capital Economic, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (8/8/2018).

Sejauh ini, Washington terus mengeluhkan surplus perdagangan China terhadap AS dan meminta agar China menguranginya.

Namun, perbedaan kepentingan antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut justru membuat selisih dagang kedua negara menjadi berlarut-larut.

Keduabelah pihak telah semakin sering mengancamkan hambatan dagang yang membuat pasar keuangan khawatir dampaknya dapat mengganggu aktivitas investasi dan merusak pertumbuhan ekonomi global.

Selain itu, AS dan China belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi eskalasi tensi dagangnya. Terbaru, AS mengumumkan bakal memberlakukan tarif berikutnya untuk produk impor asal China yang senilai US$16 miliar per 23 Agustus 2018.

Kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR) merilis tarif final sebesar 25% untuk 279 produk asal China, yang terdiri dari sejumlah produk elektronik, plastic, bahan kimia, perangkat rel kereta, atau produk-produk yang bakal diusung untuk rencana “Made in China 2025”.

Akibat pengenaan dan ancaman tarif dari AS, yuan pun telah terpuruk ke level terendahnya sejak 4 bulan terakhir pada kuartal II/2018.

Selain itu, eskalasi perdagangan dikhawatirkan juga dapat meningkatkan potensi kebangkrutan bagi perusahaan di China.

Kedua hal itu tentu dapat menyebabkan guncangan bagi perekonomian China yang telah telah melambat pada kuartal II/2018.  Adapun perlambatan tersebut sebagian besar disebabkan oleh kampanye deleveraging dari Pemerintah China terkait pengetatan utang.

Agar perlambatan tersebut tidak terlalu dalam, pemerintah China telah melepas likuiditas lewat sistem perbankan untuk menggairahkan sektor riil dan menjanjikan kebijakan fiskal yang lebih aktif.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top