Pencalonan Capres-Cawapres Dinilai Tak Signifikan Terhadap Ekonomi

Ekonom menilai kepastian dua bakal calon presiden dan wakil presiden tidak serta merta membuat investasi membaik.
Rinaldi Mohammad Azka | 10 Agustus 2018 18:33 WIB
Dua kandidat calon presiden di Pilpres 2019: Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Ekonom menilai kepastian dua bakal calon presiden dan wakil presiden tidak serta merta membuat investasi membaik.

Sentimen positif yang muncul dinilai hanya sementara, investor akan tetap melihat fundamental ekonomi Indonesia. 
 
Direktur Institute for Development of Economics dan Finance (Indef) Enny Sri Hartati menjelaskan politik memang memiliki pengaruh terhadap ekonomi dan investasi tetapi tidak signifikan.
 
"Jadi, politik ada pengaruhnya ke investasi, persetujuan investasi tinggi, minat orang investasi juga tinggi, yang jadi problem realisasi dari yang disetujui itu bermasalah sekalipun ada wait and see karena menunggu rezim baru. Yang pasti, faktor penentu realisasi tetap di problem-problem teknis fundamental," jelasnya kepada Bisnis, Jumat (10/8/2018).
 
Enny menyebutkan ada tiga hal yang menjadi fokus permasalahan lebih tinggi daripada sekedar kontestasi politik, yakni realisasi investasi yang masih rendah, faktor keyakinan saat infrastruktur tidak mampu meningkatkan produktivitas, dan daya saing produk Indonesia yang melambat.
 
Jika melihat data persetujuan investasi yang tinggi Indef menilai yang mestinya dilakukan adalah menyelesaikan permasalahan teknis karena inilah yang paling berdampak signifikan.
 
"Memang semua orang akan wait and see kalau belum terlalu banyak diselesaikan [permasalahan teknis], sehingga orang menjadi semakin wait and see," tegasnya.
 
Pembangunan infrastruktur yang saat ini dibangun pun dinilai yang bukan infrastruktur yang berdampak langsung terhadap investasi. Keyakinan investor perlu dibangun dengan komitmen percepatan infrastruktur di kawasan industri.
 
Saat ini, pembangunan proyek infrastruktur di kawasan industri masih minim sehingga membuat unsur kepercayaan investor turut minim.
 
Enny juga menyatakan produktivitas dan daya saing produk Indonesia menurun, yang tercermin dalam neraca perdagangan yang defisit. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tren defisit neraca dagang masih terjadi. Pada April dan Mei 2018, neraca dagang tercatat defisit US$1,63 miliar dan US$1,52 miliar.

Meski pada Juni 2018 sempat tercatat surplus US$1,74 miliar, tapi kinerja masih belum bisa dikatakan pulih.

Tag : Neraca Perdagangan, Pilpres 2019
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top