Defisit Transaksi Berjalan Dorong Defisit NPI Hingga US$4,3 Miliar

Melebarnya defisit transaksi berjalan pada kuartal II/2018 mendorong defisit transaksi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan menjadi sebesar US$4,3 miliar.
Hadijah Alaydrus | 10 Agustus 2018 19:31 WIB
Aktivitas bongkar muat di terminal peti kemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu petang (6/12). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA -- Melebarnya defisit transaksi berjalan pada kuartal II/2018 mendorong defisit transaksi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan menjadi sebesar US$4,3 miliar.
 
Posisi NPI pada kuartal II/2018 melebar dibandingkan kuartal I/2018 yang sebesar US$3,8 miliar dan jauh melebar dari kuartal I/2017 US$700 juta. 
 
Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia (BI) Yati Kurniati mengatakan surplus transaksi modal dan finansial meningkat sebagai cerminan optimisme investor asing dan domestik terhadap kinerja ekonomi domestik.
 
Dari data BI, transaksi modal dan finansial pada kuartal II/2018 mencatat surplus US$400 juta lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya dengan surplus sebesar US$2,4 miliar. 
 
Menurutnya, surplus transaksi modal dan finansial terutama berasal dari aliran masuk investasi langsung asing (Foreign Direct Investment/FDI) yang tetap tinggi dan investasi portofolio yang kembali mencatat surplus.
 
Surplus investasi lainnya juga meningkat, terutama didorong penarikan simpanan penduduk pada bank di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di dalam negeri. 
 
"Surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk membiayai defisit pada neraca transaksi berjalan, sehingga pada kuartal II/2018, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan mengalami defisit sebesar US$4,3 miliar," papar Yati, Jumat (10/8/2018).
 
Ke depan, BI memperkirakan kinerja NPI masih tetap baik dan dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. 
 
"Defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan tahun ini diperkirakan masih dalam batas aman yaitu tidak melebihi 3% dari PDB," sebutnya.
 
Untuk menekan defisit, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan untuk memperkuat ekspor dan mengendalikan impor melalui peningkatan import substitution. Pemerintah juga terus memperkuat sektor pariwisata untuk mendukung neraca transaksi berjalan. 
 
Selain itu, BI memastikan bakal terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI. Di antaranya ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi, kecenderungan penerapan inward-oriented trade policy di sejumlah negara, dan kenaikan harga minyak dunia. 
 
Dalam hal ini, Yati menegaskan BI terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi, serta memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural.

Tag : defisit transaksi berjalan, neraca pembayaran
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top