Defisit Melebar, Lampu Kuning untuk Pengelolaan Moneter

Defisit transaksi berjalan yang membengkak hingga 3% pada kuartal II/2018 menjadi lampu kuning bagi pengelolaan moneter di dalam negeri. 
Hadijah Alaydrus | 10 Agustus 2018 19:50 WIB
Cadangan devisa dan neraca perdagangan RI semester pertama 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA – Defisit transaksi berjalan yang membengkak hingga 3% pada kuartal II/2018 menjadi lampu kuning bagi pengelolaan moneter di dalam negeri. 

Dengan pelebaran ini, sejumlah ekonom memperkirakan defisit transaksi berjalan keseluruhan tahun akan mendekati 3%.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira memperkirakan defisit transaksi berjalan bisa mencapai 2,7-2,9% pada tahun 2018 seiring dengan tantangan ke depan yang lumayan berat.

"Jatuh tempo pembayaran utang pemerintah dan swasta khususnya ULN biasa di kuartal ketiga dan kuartal keempat jadi kebetuhan valas akan naik," kata Bhima, Jumat (10/8/2018).

Kemudian, dia menambahkan konsumsi akhir tahun juga trennya meningkat akibat libur natal tahun baru plus acara Asian Games.

Dengan demikian, Impor barang konsumsi termasuk pangan naik.

Selain itu, faktor globalnya tren harga minyak mentah masih tinggi, tekanan Fed Rate dan Pilpres buat investor 'wait and see'.

Sementara itu, Bhima mengatakan upaya pemerintah untuk mendorong wajib campuran biodiesel 20% untuk mengurangi impor solar dinilai memerlukan waktu. 

Pasalnya, ini berkaitan dengan kesiapan industri otomotif untuk menyesuaikan mesinnya.

Ada pun, Bhima lebih meyakini kontribusi sektor pariwisata yang bisa dioptimalkan karena tahun ini lumayan banyak event internasional. 

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual memperkirakan defisit transaksi berjalan bisa mencapai 2,8% tahun ini, melihat hasil laporan defisit transaksi berjalan kuartal II/2018.

"Kuartal kedua secara musiman tinggi karena impor puasa Lebaran, bayar utang dan pembayaran dividen," ungkap David.

Namun, faktor musiman ini ditekan dengan seretnya pembiayaan terhadap defisit transaksi berjalan akibat kondisi global, salah satunya pengetatan suku bunga.

Padahal, sekitar 20% defisit transaksi berjalan harus dibiayai oleh aliran modal portfolio yang memiliki risiko volatilitas tinggi.

"Apalagi ditambah banyak isu seperti trade war dan normalisasi Fed Fund Rate serta kekhawatian contagion effect dari pelemahan lira Turki," ungkapnya.

Hal tersebut diperkirakan akan tetap membayangi transaksi berjalan di kuartal selanjutnya, ditambah dengan harga minyak global yang naik.

Tag : defisit transaksi berjalan
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top