INKLUSI KEUANGAN: Naga Group Kembangkan Cryptocurrency

Perusahaan berbasis financial technology (fintech) Naga Group AG mengembangkan layanan solusi keuangan berbasis cryptocurrency sebagai sat cara mendorong inklusi keuangan.
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 12 Agustus 2018  |  16:23 WIB
INKLUSI KEUANGAN: Naga Group Kembangkan Cryptocurrency
Direktur Eksekutif Naga Group AG Yasin Sebastian Qureshi

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan berbasis financial technology (fintech) Naga Group AG mengembangkan layanan solusi keuangan berbasis cryptocurrency sebagai satu cara mendorong inklusi keuangan.

Direktur Eksekutif Naga Group AG Yasin Sebastian Qureshi mengatakan bahwa perusahaan itu menempatkan inklusi keuangan sebagai misi utama dan terus menciptakan inovasi yang memungkinkan pengguna untuk mengirim dan menerima pembayaran cryptocurrency via surat elektronik atau nomor telepon, yang dapat dikonversikan menjadi uang tunai.

“Kami percaya bahwa tidak ada sumber daya yang benar-benar langka, yang menjadi permasalahan adalah akses kepada sumber daya tersebut,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (12/8/2018).

Naga Group mengembangkan Naga Wallet – sebuah dompet cryptocurrency revolusioner yang akan memberikan klien akses yang cepat dan terjangkau dalam mengatur aset kripto.

Dengan fitur yang lengkap dan instan, transaksi real-time, dan biaya yang 50% lebih murah bilamana menggunakan Naga Coin, toke buatan Naga Group.

“Tambahan lagi, ketika kebanyakan dompet lainnya hanya mendukung beberapa mata uang, Naga Wallet mendukung lima koin dan lebih dari 1.200 token,” katanya.

Menurutnya, terdapat banyak pengusaha, ekonom, pejabat, dan bankir yang percaya bahwa kombinasi cryptocurrency dan ponsel akan memberikan akses kepada masyarakat miskin menuju ekonomi global serta mengatasi sejumlah batasan yang dimiliki perbankan.

Sebagai contoh, petani lokal di sebuah desa kecil di Afrika, tidak identitas diri atau rekening bank, dimana bagi mereka mempersiapkan kedua hal tersebut merupakan sesuatu menyulitkan. Kondisi seperti ini merupakan sesuatu yang nyata di Afrika dan beberapa negara berkembang lain.

Akan tetapi, jangkauan ponsel pintar dalam wilayah tersebut sedang tumbuh dengan sangat cepat. Mereka  adalah masyarakat yang tidak memiliki, atau memiliki akses terbatas kepada produk-produk tabungan, asuransi, pasar internasional dan metode pembayaran yang nyaman.

Hal ini berarti mereka memiliki pemahaman yang sangat terbatas mengenai cara berpartisipasi di dalam ekonomi global, yang diharapkan dapat membantu mereka melepaskan dari kemiskinan. “Yang mengejutkan, data Bank Dunia menunjukkan bahwa 1,7 miliar orang tidak mempunyai rekening bank, yang mencakup 31% dari populasi orang dewasa di dunia.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bitcoin, uang elektronik

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top