LAPORAN DARI TOKYO: Bertemu Investor Jepang, Ini Tujuan BI & BKF

Bank Indonesia bersama Badab Kebijakan Fiskal akan bertemu dengan lembaga rating, analis, dan investor di Jepang.
Surya Rianto | 19 Agustus 2018 23:06 WIB
Bank Indonesia - Reuters/Iqro Rinaldi

Bisnis.com, TOKYO – Bank Indonesia bersama Badan Kebijakan Fiskal akan bertemu dengan lembaga rating, analis, dan investor di Jepang. Pertemuan itu dilakukan untuk menjaga persepsi positif investor Jepang kepada Indonesia di tengah beberapa tantangan eksternal.

Kepala Kantor Representatif Bank Indonesia Asia Timur Puji Atmoko mengatakan dua lembaga rating Jepang yang akan ditemui oleh Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara dan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara adalah Rating & Investment Information Inc. (R&I) dan Japan Credit Rating Agency Ltd (JCR).

"Pertemuan BI dan BKF dengan dua lembaga rating itu dilaksanakan pada Senin (20/8/2018) pagi, tetapi sifatnya terbatas," ujarnya pada Minggu (19/8) malam.

Setelah itu, BI dan BKF akan bertemu dengan investor Jepang dengan skema pertemuan satu per satu.

Puji menuturkan kegiatan selanjutnya adalah pertemuan dengan para analis dari perbankan di Jepang. BI bersama BKF bertemu dengan analis untuk memastikan persepsi positif untuk Indonesia. "Kalau analis sudah proyeksi positif, investor pun bakal mengacu kepada analisis tersebut," tuturnya.

Ekonomi global termasuk Indonesia tengah dilanda berbagai polemik dari kebijakan proteksionisme AS, Perang dagang yang meluas tidak hanya antara AS – China, krisis ekonomi Turki, dan beberapa kondisi lainnya yang memengaruhi nilai tukar rupiah.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, rupiah mencatat pelemahan sebesar 0,11% menjadi Rp14.593 per dolar AS. Salah satu penyebab pelemahan rupiah itu antara lain, defisit transaksi berjalan pada kuartal II/2018 melebar menjadi 3% dibandingkan dengan kuartal I/2018 yang 2,2%.

Puji mengatakan di tengah defisit transaksi berjalan yang melebar itu, Indonesia justru mencatat kenaikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2018 menjadi 5,27% dibandingkan dengan kuartal I/2018 yang 5,06%.

"Pertumbuhan itu bisa dibilang cukup besar dan sampai mengubah target pertumbuhan ekonomi sampai akhir 2018," ujarnya.

Awalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 diproyeksikan berada pada kisaran 5,1% sampai 5,4%. Namun, pencapaian pada kuartal pertama sempat membuat bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai target batas bawah.

Lalu, setelah melihat realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua, BI optimistis pertumbuhan ekonomi bisa tembus ke target menengah yakni sekitar 5,3%.

Mirza dan Suahasil pun ke Jepang bukan sekadar bertemu dengan lembaga rating, investor, dan analis. Perwakilan regulator moneter dan fiskal Indonesia itu juga akan bertemu dengan para Indonesianis di Jepang. Indonesianis itu adalah warga negara asing yang begitu mencintai Indonesia.

Puji menyebutkan Indonesianis yang akan diundang itu terdiri atas akademisi, pengamat, dan berbagai bidang lainnya. Dia tak bisa memerinci karena belum melihat nama-nama pasti para Indonesianis yang sudah mendaftar.

Indonesia bakal memfokuskan kerja sama dengan Jepang di tiga bidang yakni pariwisata, perdagangan, dan investasi. Kerja sama antara Indonesia dan Jepang di tiga bidang itu diharapkan mampu memangkas defisit transaksi berjalan.

Tag : bank indonesia, fiskal
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top