KABAR PASAR 20 AGUSTUS: Utilisasi FTA Terbengkalai, Gejolak Domestik Mereda

Berita seputar utilisasi free trade agreement serta meredanya gejolak pasar saham domestik menjadi sorotan media massa hari ini, Senin (20/8/2018).
Aprianto Cahyo Nugroho | 20 Agustus 2018 08:01 WIB
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Berita seputar utilisasi free trade agreement serta meredanya gejolak pasar saham domestik menjadi sorotan media massa hari ini, Senin (20/8/2018).

Berikut ringkasan topik utama di sejumlah media nasional:

Utilisasi FTA Terbengkalai. Indonesia harus memaksimalkan utilisasi pakta perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA), yang terbukti ampuh digunakan untuk mendongkrak nilai ekspor nonmigas. (Bisnis Indonesia)

Gejolak Domestik Mereda. Gejolak pasar saham domestik sepanjang pekan ini diharapkan sudah cukup mereda setelah faktor penyebab gejolak selama ini, yakni tekanan krisis finansial yang dialami Turki mulai menemukan jalan keluar. (Bisnis Indonesia)

Pemerintah Ambisius. Pemerintah memasang target penerimaan pajak cukup ambisius dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019. (Bisnis Indonesia)

Konsumsi Masyarakat Terus Dipacu. Pemerintah terus memanfaatkan kebijakan populis sebagai motor pengerek konsumsi rumah tangga yang bermuara pada peningkatan pertumbuhan ekonomi. (Bisnis Indonesia)

Ekonomi Kuartal III Bisa Capai 5,3%. Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal III/2018 bisa mencapai 5,3% didorong oleh acara Asian Games 2018. (Bisnis Indonesia)

Pajak Lebih Ramah di Tahun Politik. Tahun 2019, pemerintah tampaknya bakal kalem memburu penerimaan pajak ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Bersamaan dengan tahun politik, pemerintah sepertinya bakal lebih ramah kepada para wajib pajak. (Kontan)

Biaya untuk Kebijakan Insentif Fiskal dalam Tren Meningkat. Pemerintah kini mencatat estimasi kehilangan penerimaan perpajakan akibat subsidi maupun insentif pajak dalam biaya yang dikeluarkan negara melalui kebijakan pajak (tax expenditure). Angka tax expenditure cukup besar dan dalam tren meningkat. Pemerintah akan memakai data itu dalam menentukan insentif fiskal. (Kontan)

Anggaran PMN Melonjak Hampir Lima Kali Lipat. Tak hanya anggaran perlindungan sosial dan infrastruktur yang meningkat, alokasi penyertaan modal negara (PMN) tahun depan juga melonjak tinggi. Pemerintah berencana menyalurkan PMN ke sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) total mencapai Rp 17,8 triliun. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding PMN tahun ini yang hanya sebesar Rp 3,6 triliun. (Kontan)

Tag : kabar pasar
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top