Rendahnya Kinerja Pemungutan Pajak Jadi Tantangan Besar

Bisnis.com, JAKARTA — Rendahnya kinerja pemungutan pajak menjadi tantangan bagi pemerintah untuk merealisasikan target pertumbuhan penerimaan pajak pada 2019 sebesar 16,4%.
Edi Suwiknyo | 22 Agustus 2018 18:54 WIB
Direktur Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan Robert Pakpahan saat acara ngobrol santai di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta, Selasa (10/7/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Rendahnya kinerja pemungutan pajak menjadi tantangan bagi pemerintah untuk merealisasikan target pertumbuhan penerimaan pajak pada 2019 sebesar 16,4%.

Sejumlah indikator kinerja pemungutan penerimaan pajak baik itu tax ratio (rasio pajak) maupun elastisitas penerimaan pajak terhadap laju pertumbuhan ekonomi atau tax buoyancy setiap tahun tercatat anjlok.

Tax ratio (penerimaan Ditjen Pajak) misalnya, pada 2017 realisasinya (basis data 2017) hanya 8,4% atau paling rendah dibandingkan dengan 5 tahun belakangan. Begitu pula dengan kinerja tax buoyancy.

Tren selama 5 tahun belakangan, realisasi tax buoyancy terus tergerus dari 1,22% pada 2012 menjadi 0,8% pada 2017 atau jika menggunakan data dari pemerintah, justru terkoreksi lebih dalam yakni pada angka 0,48%.

Realisasi tax buoyancy yang terus anjlok mengonfirmasi bahwa setiap 1% pertumbuhan ekonomi belum mampu mendorong 1% pertumbuhan penerimaan pajak.

Padahal, seperti diakui pemerintah dalam nota keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019, idealnya pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penerimaan pajak memiliki hubungan yang kuat. Apalagi peran pajak dalam APBN juga setiap tahun berangsur naik.

Sebagai gambaran pada 2018, kontribusi penerimaan pajak terhadap pendapatan negara hanya 74%, sedangkan pada tahun depan kontribusinya akan naik pada kisaran 83%. Dengan semakin besar porsi penerimaan pajak ke pendapatan negara, besar kecilnya penerimaan pajak bakal memengaruhi performa APBN.

Kendati demikian, Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan Pajak Ditjen Pajak Yon Arsal menyebutkan bahwa otoritas pajak tetap optimistis kinerja pemungutan pajak bakal membaik. Optimisme ini ditopang oleh berbagai kebijakan yang akan diimplementasikan dalam waktu dekat salah satunya automatic exchange of information atau pertukaran informasi secara otomatis.

"Secara umum strategi kita sama, ekstensifikasi yang berkualitas serta pengawasan dan penegakan hukum dengan penekanan pada pemanfaatan data, seperti data AEOI," kata Yon kepada Bisnis, Selasa (21/8/2018).

Meski demikian, Yon tak menampik salah satu tantangan ke depan memang berasal dari faktor eskternal baik domestik maupun global. Akan tetapi perkiraan Ditjen Pajak, keberadaan berbagai tantangan tersebut dampaknya mungkin tak terlalu signifikan terhadap penerimaan otoritas pajak.

Adapun mengutip Nota Keuangan RAPBN 2019, rendahnya kinerja pemungutan pajak tersebut sangat erat kaitannya dengan tingginya shadow economy dan kepatuhan pembayar pajak yang rendah.

Tag : pajak
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top