BI: Perang Suku Bunga Kian Melebar

Bank Indonesia memperkirakan risiko perang suku bunga (monetary policy war) di pasar global semakin melebar ke depannya. 
Hadijah Alaydrus | 24 Agustus 2018 12:37 WIB
suku bunga

Bisnis.com, MANADO--Bank Indonesia memperkirakan risiko perang suku bunga (monetary policy war) di pasar global semakin melebar ke depannya. 

Fadjar Majardi, Kepala Divisi Asesmen Makro Ekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), mengungkapkan hal ini ditandai besarnya tendensi bank sentral di beberapa negara maju dan berkembang untuk menaikkan suku bunganya. 

"Turki sudah hampir 1.000 basis poin [bps], ke depan Filipina dan India akan meningkatkan suku bunga di triwulan ketiga dan Korea Selatan di triwulan keempat," ujar Fadjar, Jumat (24/8).

Tidak hanya negara berkembang, negara maju lainnya juga akan ikut menaikkan suku bunganya, a.l. Kanada dan Swedia pada Oktober dan Norwegia pada Desember 2018. 

Indikasi melebarnya perang suku bunga kebijakan antar bank sentral di dunia ini menjadi salah satu dasar mengapa BI berkomitmen menerapkan kebijakan yang front loading, preemptive dan ahead the curve. 

"Dengan indikasi [tendency monetary policy war] itu makanya kita bergerak lebih dulu." 

Pemicu terjadinya tendency monetary policy war ini adalah menguatnya ketidakpastian global. Pada umumnya, investor akan mencari safe haven currency atau mata uang aman ketika ketidakpastian di pasar uang meningkat. 

Seperti diketahui, dolar AS adalah mata uang yang paling aman karena mata uang Negeri Paman Sam tersebut merupakan reserve currency di dunia.

Sekitar 60% cadangan devisa negara-negara di dunia disimpan dalam bentuk dolar AS.

Kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Indonesia serta sejumlah negara lain dilakukan untuk menjaga daya tarik pasar uangnya agar lebih menarik sehingga pelemahan nilai tukar tidak terlalu dalam. 


Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual mengungkapkan ada korelasi ketika the Fed menaikkan suku bunga dengan penguatan dolar indeks sehingga mata uang lain di dunia mengalami pelemahan. 

Selain itu, dia mengingatkan kondisi pengetatan suku bunga di AS ini perlu diwaspadai. 

"Kita perlu hati-hati karena tahun 1997 dan 1998 itu merupakan rentetan ketika the Fed melakukan pengetatan pada 1994 hingga 1996," ungkap David. 


Begitupun pada 2007 dan 2008, krisis global diawali dengan the Fed melakukan kebijakan pengetatan moneter. 


Untuk melihat probabilitas resesi ke depannya, dia menuturkan beberapa analis mengunakan analisis kurva imbal hasil surat utang. 

"Ketika yield curve-nya mulai inverted artinya suku bunga jangka pendeknya mulai naik dan bahkan bisa lebih tinggi dibandingkan bunga jangka panjang ini mengindikasikan bisa saja terjadi resesi pada masa yang akan datang," paparnya

Tag : Suku Bunga
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top