Laba Industri China Melemah Selama 3 Bulan Berturut-turut

Pertumbuhan laba industri di China kembali melambat pada Juli 2018, sekaligus menunjukkan penurunan selama tiga bulan berturut-turut.
Dwi Nicken Tari | 27 Agustus 2018 14:06 WIB
Pabrik baja di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China - Reuters/William Hong

Bisnis.com, JAKARTA -- Pertumbuhan laba industri di China kembali melambat pada Juli 2018, sekaligus menunjukkan penurunan selama tiga bulan berturut-turut.
 
Hal itu pun mengindikasikan bahwa permintaan di ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut mulai mendingin dan semakin diperburuk oleh tekanan eskalasi perdagangan dari AS.
 
Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS) China melaporkan laba industri tumbuh sebesar 16,2% dari tahun sebelumnya menjadi 515,12 miliar yuan atau sekitar Rp1.105,54 triliun. Angka kenaikan ini lebih rendah dari realisasi pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang menyentuh 20%. 

Sepanjang tahun berjalan hingga Juli 2018, perusahaan industri di China melaporkan laba sebesar 3,9 triliun yuan atau naik 17,1% dari periode yang sama pada tahun lalu.
 
“Pelemahan laba industri pada Juli 2018 disebabkan oleh inflasi harga produsen yang bergerak moderat,” tulis He Ping dari NBS dalam keterangan resmi, seperti dilansir Reuters, Senin (27/8/2018).
 
Adapun pelemahan data ekonomi tersebut juga muncul setelah ekonomi China diperkirakan bakal melambat pada tahun ini.
 
Sejauh ini, pertumbuhan investasi di China telah melemah ke rekor terendahnya dan konsumen pun mulai bersikap waspada. Selain itu, pertumbuhan hasil industri juga tidak menunjukkan pergerakan yang memuaskan.
 
Selain itu, kendati harga-harga bahan mentah meningkat dan menguntungkan produsen seperti pabrik baja dan perusahaan minyak, hal itu justru menambah tekanan marjinal terhadap perusahaan.
 
Survei bisnis menunjukkan bahwa manufaktur kecil kini masih kesulitan dan akan terus memangkas jumlah pegawainya untuk menjaga stabilitas perusahaan.
 
Di sisi perdagangan, pembicaraan China dan AS di level pejabat menengah pada pekan lalu juga tidak memberikan simpulan yang berarti. Tensi dagang justru semakin meningkat dengan berlakunya tarif 25% untuk produk impor senilai US$16 miliar dari masing-masing negara.
 
Pada awal bulan ini, Kepala NBS Ning Jizhe menegaskan bahwa China yakin dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi 2018 yang sebesar 6,5%.
 
"Kami akan mengambil langkah untuk dapat menyeimbangkan risiko di dalam bidang ketenagakerjaan yang mungkin disebabkan oleh friksi dagang," ujarnya.
 
Sebagai upaya menopang perekonomian, China kini memperbesar pengeluaran untuk sektor infrastruktur dan menjaga agar likuiditas tetap dapat menopang pertumbuhan kendati hal itu dapat memicu kembali menumpuknya utang.
 
Pejabat Pemerintah China bahkan menyatakan bakal memberikan bantuan lebih kepada perusahaan yang kesulitan mendapatkan pendanaan.
 
Pekan lalu, Menteri Keuangan China Liu Kun menyampaikan bahwa pajak dan biaya (tax and fee) akan dipangkas hingga lebih dari 1,1 triliun yuan pada tahun ini.
 
Adapun data lain yang dirilis oleh NBS adalah laba yang diterima oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China yang naik 30,5% secara tahunan untuk periode Januari-Juli 2018 atau turun dari 31,5% pada periode yang sama pada tahun lalu.
 
Di sisi lain, pasar baja di China justru masih menikmati posisi menguntungkan karena Pemerintah China terus melanjutkan restriksi produksi yang ingin mengurangi polusi industri.
 
Jiangsu Shagang, perusahaan baja swasta terbesar di China, melaporkan laba bersihnya untuk semester I/2018 melonjak hingga 242,3%. 

Tag : ekonomi china
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top