Dua Tahun Berdiri, AIIB Sudah Salurkan US$5,34 Miliar Untuk Infrastruktur

Kendati baru berdiri dua tahun, lembaga keuangan multilateral Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) tercatat telah menyalurkan pembiayaan infrastruktur di Asia dan non-Asia sebesar US$5,34 miliar per Agustus 2018. 
Hadijah Alaydrus | 28 Agustus 2018 16:39 WIB
Wisatawan mancanegara berjemur di pantai Kuta yang berada dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (31/8). - ANTARA/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA -- Kendati baru berdiri dua tahun, lembaga keuangan multilateral Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) tercatat telah menyalurkan pembiayaan infrastruktur di Asia dan non-Asia sebesar US$5,34 miliar per Agustus 2018. 
 
Dana tersebut dipakai untuk membiayai 28 proyek infrastruktur di beberapa negara anggota. 
 
Head of Communications and Development AIIB Laurel Ostfield menuturkan dari 28 proyek tersebut, sektor yang paling banyak mendapat pendanaan adalah energi dan transportasi dengan porsi masing-masing 43% dan 25%.
 
Namun, porsi penyaluran pendanaan langsung dari AIIB (standalone program) masih sekitar 32% dari total dana yang disalurkan. Adapun 68% sisanya merupakan penyaluran bersama dengan lembaga keuangan multilateral lainnya (co-financed program).
 
"Indonesia tercatat sebagai penerima pendanaan terbesar setelah India," ungkapnya, Selasa (28/8/2018).
 
Total dana yang disalurkan ke Indonesia telah mencapai US$691,5 juta atau 13% dari US$5,34 miliar. 
 
Pinjaman tersebut dipakai untuk membiayai modernisasi irigasi strategis dan proyek rehabilitasi mendesak, proyek perbaikan operasional dan keselamatan bendungan fase II, proyek dana pengembangan infrastruktur regional, dan proyek nasional perbaikan wilayah kumuh. 
 
Namun, proyek tersebut merupakan proyek yang pendanaannya bersifat co-financed, di mana AIIB di antaranya bergabung bersama World Bank.
 
Nilai tersebut dapat bertambah sebesar US$260 juta pada tahun ini seiring dengan akan diputuskannya proyek pengembangan wisata di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada September 2018. 
 
Sebagai salah satu negara pendiri, Indonesia tercatat memberikan setoran sebesar US$3.360,7 juta dan memiliki hak voting sebesar 3,21%.
 
AIIB melihat Indonesia masih membutuhkan pendanaan investasi infrastruktur ke depannya. Pasalnya, Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) mengungkapkan Indonesia memerlukan tambahan dana sebesar US$368,9 miliar untuk pembangunan jangka menengah atau lima tahun ke depan. 

AIIB mencatat investasi Indonesia di bidang infrastruktur masih 3%-4% dari Pendapatan Nasional Bruto (PNB). Padahal, negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam sudah mampu menginvestasikan 7%-8% PNB-nya.
 
"Defisit investasi ini tidak hanya mempengaruhi pembangunan infrastruktur baru tapi juga dapat menghambat proses rehabilitasi, operasional, dan peningkatan kualitas infrastruktur Indonesia saat ini," ujar Laurel. 
 
Untuk itulah, AIIB akan berupaya menjembatani pemerintah dan sektor swasta dalam rangka menggali prospek kerja sama pemerintah dan badan usaha (Public Private Partnership/PPP). 

Tag : infrastruktur, aiib
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top