Pasar Modal Jadi Kontributor Utama Industri Keuangan Syariah

Perkembangan industri keuangan syariah di dalam negeri terbilang cukup pesat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aset industri keuangan syariah per akhir Juni 2018 mencapai Rp1.204,48 triliun dengan sumbangan utama dari pasar modal syariah.
Tegar Arief | 31 Agustus 2018 14:28 WIB
Pengunjung mengamati papan monitor yang menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa efek Indonesia, Jakarta, Rabu (11/7/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Perkembangan industri keuangan syariah di dalam negeri terbilang cukup pesat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aset industri keuangan syariah per akhir Juni 2018 mencapai Rp1.204,48 triliun dengan sumbangan utama dari pasar modal syariah.

Pasar modal syariah, di luar kapitalisasi saham yang tercatat di Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), memberikan kontribusi sebesar 55% atau sejumlah Rp661,71 triliun.

Angka ini jauh lebih besar daripada aset di perbankan syariah yang sebesar Rp444,43 triliun maupun di Industri Keuangan Non Bank (IKNB) syariah yang senilai Rp98,34 triliun.

"Secara agregat, market share industri keuangan syariah di Indonesia baru mencapai 8,47% dari total keseluruhan aset di industri jasa keuangan. Masih banyak ruang untuk pertumbuhan," ujar Direktur Pasar Modal Syariah OJK Fadilah Kartikasasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (31/8/2018).

Adapun komposisi aset di pasar modal per 16 Agustus 2018 didominasi oleh saham syariah yang mencapai Rp3.432 triliun, disusul oleh sukuk negara senilai Rp627 triliun. Dalam kategori aset yang lain, aset di reksa dana syariah senilai Rp32 triliun dan di sukuk korporasi sekitar Rp17 triliun.

Dia menambahkan OJK berharap para pelaku di industri ini dapat gencar melakukan edukasi ke masyarakat luas, termasuk memaksimalkan peran teknologi.

"Pelaku harus bisa memanfaatkan teknologi finansial untuk memberikan kemudahan akses bagi masyarakat ke produk-produk pasar modal syariah dan menyediakan variasi produk investasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia dan terjangkau," tutur Fadilah.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Edy Setiadi menambahkan aset keuangan syariah di Indonesia sebenarnya masih relatif kecil, tapi dari sisi pertumbuhan cukup positif. Menurutnya, industri keuangan syariah di Tanah Air mengalami pertumbuhan yang paling pesat di dunia.

Dalam periode 2015-2016, pertumbuhannya mencapai 72%.  Angka ini jauh di atas Iran yang hanya 26%, Bahrain 22%, Kuwait 20%, dan Bangladesh 18%.

"Didukung oleh jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, sistem keuangan syariah yang terlengkap, dan landscape ekonomi syariah serta filantropi syariah yang memadai, Indonesia berpeluang menjadi pusat keuangan syariah di dunia," terang Edy.

Tag : syariah, pasar modal syariah
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top