Akibat Gempa Lombok, Ekonomi NTB Diperkirakan Melambat

Perekonomian di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) diperkirakan hanya mengalami pertumbuhan sekitar nol persen lantaran terkena imbas dari peristiwa musibah gempa bumi yang melanda daerah yang masuk Wilayah Indonesia Bagian Tengah tersebut. 
Puput Ady Sukarno | 31 Agustus 2018 19:53 WIB
(Dari kiri) Mendikbud, MenPUPR, Menko PMK, Menkes, Menbappenas, Mensos, Wagub NTB, saat konferensi pers usai rakor di gedung Kemenko PMK, Jakarta 31 Agustus 2018. - Bisnis/Muhammad Ridwan

Bisnis.com, JAKARTA – Perekonomian di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) diperkirakan hanya mengalami pertumbuhan sekitar nol persen lantaran terkena imbas dari peristiwa musibah gempa bumi yang melanda daerah yang masuk Wilayah Indonesia Bagian Tengah tersebut. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengakui bahwa musibah gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut diperkirakan bakal berdampak cukup signifikan bagi perekonomian wilayah setempat. 

"Memang perkiraan kami ekonominya akan melambat dibandingkan perkiraan awal untuk 2018. Demikian juga ada potensi kenaikan inflasi, kenaikan kemiskinan dan pengangguran," ujarnya di sela Konferensi Pers Rapat Tingkat Menteri Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Gempa NTN, di Kantor Kemenko PMK, Jumat (31/8/2018).

Menurutnya berdasarkan analisa sementara Bappenas, pertumbuhan ekonomi NTB pada kuartal III/2018 bakal makin terkontraksi sebagai akibat dari gempa bumi yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. 

Meskipun demikian, dampak dari gempa tersebut bagi perekonomian NTB tidak seberat dampak dari anjloknya sektor pertambangan di sana. Pasalnya, sejak setahun terakhir kondisi ekonomi NTB memang sudah melambat sebagai akibat dari anjloknya sektor pertambangan. 

"Sebenarnya pertumbuhan NTB sudah melambat di 2017 gara-gara sektor pertambangan mengalami kontraksi. Jadi sebenarnya, lebih besar dampak kontraksi pertambangan ini dari pada gempa," ujarnya. 

Namun demikian, dengan adanya kondisi gempa tersebut, bakal membuat membuat perkiraan pertumbuhan yang tadinya bisa positif, kembali terkontraksi sekitar 0%. "Karena tahun lalu NTB tumbuhnya sekitar 0,11% dari PDB. Jadi pertumbuhannya tahun ini mungkin masih sekitar 0%," ujarnya.

Adapun data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi provinsi NTB pada kuartal II/2018 mengalami kontraksi minus 0,37%, yang disebabkan dari anjloknya sektor pertambangan. 

Sementara itu angka kemiskinan di daerah tersebut, per Maret 2018 masih mencapai 737.460 orang. Perkiraan sementara, angka tersebut bakal meningkat tahun ini dengan adanya  gempa. Pasalnya Bappenas juga memprediksikan akan ada peningkatan pengangguran, meksipun angka pastinya sedang dilakukan kajian.

Tag : gempa lombok
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top