Inflasi Agustus Diprediksi Terkendali

Inflasi bulan Agustus tetap terkendali di tengah bayang-bayang tren peningkatan harga pangan. 
Hadijah Alaydrus | 02 September 2018 21:43 WIB
. - JIBI/Alby Albahi
JAKARTA--Inflasi bulan Agustus tetap terkendali di tengah bayang-bayang tren peningkatan harga pangan. 
Konsensus sejumlah ekonom yang disurvei Bloomberg, Jumat (31/8), menunjukkan inflasi Agustus akan mencapai rata-rata 0,05% dengan nilai tengah 0,06%. 
Sementara itu, SPH minggu keempat Bank Indonesia (BI) menunjukan IHK Agustus mengalami deflasi sebesar 0,02%. 
Ekonom Indef Bhima Yudhistira menuturkan inflasi Agustus akan berada di kisaran 0,15%-,20%, lebih rendah dibandingkan inflasi Juli. 
"Yang perlu diwaspadai adalah inflasi yang berasal dari volatile food yang secara konsisten dari awal tahun terus naik," ujar Bhima, Minggu (2/9). 
Sebegai catatan, inflasi harga pangan bergejolak secara tahun kalender telah mencapai 4,6%. Tahun lalu, inflasi harga pangan bergejolak secara keseluruhan tahun berada di sekitar 0,71%. 
Menurut Bhima, meningkatnya inflasi harga pangan bergejolak disebabkan oleh pengaruh pelemahan kurs atau kondisi ini sering disebut imported inflation. 
Penyesuaian biaya impor ini, kata Bhima, akan berdampak pada harga telur, daging ayam, daging sapi yang diprediksi menyumbang inflasi makanan bulan Agustus. 
Adapun, dia melihat beras relatif stabil dari sisi harga karena pemerintah terus meningkatkan impor. 
Dengan demikian, imported inflation pada Agustus mulai terasa, walaupun masih kecil. 
"Yang harus diwaspadai bulan September dan seterusnya," ujar Bhima.
Saat ini, dia melihat inflasi tidak terlalu tinggi karena stok barang masih stok lama, yang dikumpulkan dari 3-4 bulan yang lalu sehingga pedagang masih bisa menurunkan marjin keuntungan agar harga jual stabil. 
Bhima khawatir pedagangan akan mulai menyesuaikan harga baru pada bulan September sesuai dengan pergerakan rupiah di kisaran Rp14.400. 
"Di situlah peran imported inflation semakin dominan," tegas Bhima. 
Ekonom PT Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan imported inflation akibat efek depresiasi nilai tukar rupiah patut diwaspadai. 
Pasalnya, imported inflation ini yang membuat perkiraan inflasi tahun ini meningkat menjadi 3,8% (yoy/year on year) dibandingkan tahun lalu sebesar 3,61%.
 "Tetapi angka tersebut masih dalam kisaran yang rendah," ujar Lana. 
Lana mengakui depresiasi rupiah akan mempengaruhi harga bahan makanan, makanan jadi hingga barang elektronik, seperti handphone dan komputer. 
Dengan adanya kenaikan harga, dia berharap secara alamiah konsumsi barang impor akan menurun sejalan dengan upaya pemerintah menekan barang impor konsumsi. 
Namun, Lana menilai upaya pemerintah dalam membatasi impor dikhawatirkan dapat meningkatkan harga sejumlah barang tersebut. 
Pasalnya, upaya pemerintah menekan impor dilakukan dengan memberlakukan kebijakan impor dengan meningkatkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 impor sebesar 7,5% ddari 2,5%.
Pengenaan PPh Pasal 22 harus hati-hati, karena PPh impor tersebut bisa dikreditkan kembali waktu penghitungan pajak PPh Pasal 25. 
"Dari sisi ini seharusnya tidak ada alasan importir melakukan pass on harga ke konsumen. Di sini harus ada pengawasan dari pemerintah karena mereka bisa mengkreditkan ini sebagai pengurang pajak di PPh secara keseluruhan," kata Lana
Tag : Inflasi
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top