IHK Agustus Catatkan Deflasi 0,05%

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) selama Agustus 2018 mengalami deflasi sebesar 0,05%.
Hadijah Alaydrus | 03 September 2018 11:33 WIB
Sejumlah pesawat terparkir di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Selasa (20/3/2018). - ANTARA/Wira Suryantala

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) selama Agustus 2018 mengalami deflasi sebesar 0,05%.

Pencapaian ini lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,28%. Adapun inflasi tahunan dan tahun kalendernya masing-masing tercatat sebesar 2,13% dan 3,2%.

Dari 82 kota yang disurvei BPS, 52 kota mengalami deflasi dan 30 kota mengalami inflasi.

Deflasi tertinggi berada di kota Bau-Bau akibat penurunan harga ikan dan tiket pesawat. Sementara itu, inflasi tertinggi terjadi di Tarakan. 

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan angka ini sangat mengembirakan karena masih di bahwa 3,5%.

"Kalau lihat trennya pada 2018, inflasi relatif terkendali di mana inflasi tahunannya pada Agustus mencapai 3,2% atau lebih rendah dibandingkan inflasi Agustus 2017 yang sebesar 3,82%," paparnya dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (3/9/2018). 

Berdasarkan komponen, ada tiga kelompok pengeluaran yaitu sandang, bahan makanan, dan transportasi. Sementara itu, inflasi tertinggi terjadi di pendidikan, rekreasi dan olah raga.

Bahan makanan mengalami deflasi 1,1% sehingga andilnya 0,24%. Secara umum, bahan makanan mengalami penurunan dengan komoditas yang dominan antara lain telur ayam dengan andil 0,06%, bawang merah 0,05%, daging ayam ras, serta cabai merah dan cabai rawit dengan andil 0,02%.

Penurunan harga telur ayam terjadi di 62 kota IHK dan bawang merah tercatat turun di 75 kota IHK.

Di komponen sandang, deflasi tercatat sebesar 0,07% dan andil kepada deflasi disumbang oleh emas dan perhiasan yang besarnya 0,01%. BPS mencatat ada penurunan harga emas di 60 kota IHK seluruh Indonesia.

Transportasi mengalami deflasi sebesar 0,15% dengan andil kepada deflasi keseluruhan 0,02%. Komoditas yang dominan adalah penurunan tarif angkutan udara di 32 kota, salah satunya penurunan tarif angkutan udara di Bengkulu yang mencapai 38%.

Adapun inflasi tertinggi disumbang oleh kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 1,03% dengan andil 0,08%. Suhariyanto menuturkan kondisi ini dipicu oleh kenaikan biaya pendidikan di bangku SD, SMP, dan SMA akibat tahun ajaran baru.

Dengan demikian, BPS menyimpulkan deflasi pada Agustus 2018 terutama dipengaruhi penurunan harga telur ayam, bawang merah. dan tarif angkutan udara.

"Sementara itu, penghambat deflasi adalah naiknya biaya sekolah SD, SMP, dan SMA," terangnya.

Tag : Inflasi, deflasi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top