Xi Jinping Tegaskan Keterbukaan Ekonomi China

China masih ingin mereformasi serta bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membangun dan membuka perekonomiannya. Presiden China Xi Jinping mempertegas hal tersebut kendati China tengah berada di dalam perang dagang dengan Amerika Serikat.
Dwi Nicken Tari | 03 September 2018 18:51 WIB
Presiden China Xi Jinping - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — China masih ingin mereformasi serta bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membangun dan membuka perekonomiannya. Presiden China Xi Jinping mempertegas hal tersebut kendati China tengah berada di dalam perang dagang dengan Amerika Serikat.

Ketika menyambut kedatangan Sekretasi Jenderal PBB Antonio Guterres di Beijing menjelang Konferensi Tingat Tinggi (KTT) China—Afrika, Xi mempertegas tujuan reformasi ekonomi China dan tidak memberikan komentar langsung mengenai tensi dagang dengan AS. 

“Keinginan China untuk mereformasi [ekonomi] secara keseluruhan dan mendalam tidak akan berubah,” tulis Kementerian Luar Negeri China mengutip ucapan Xi kepada Guterres, seperti dikutip Reuters, Senin (3/9).

Xi juga menambahkan bahwa China akan menggunakan aksi praktikal untuk mendorong semua pihak di dalam mendukung liberalisasi perdagangan. Selain itu, China juga akan memfasilitasi dan membantu pembangunan ekonomi dunia yang terbuka. 

Adapun pernyataan yang dikeluarkan Kemlu China tersebut tidak menjelaskan lebih rinci mengenai langkah konkrit yang akan diambil China.

Sementara itu, China dan AS masih berada di dalam aksi saling lempar tarif untuk masing-masing produk impor. 

Tensi dagang tersebut semakin meningkat seiring Presiden AS Donald Trump ingin mencari cara untuk menyelesaikan beberapa permasalahan ekonomi Negeri Paman Sam dengan China, mulai dari isu defisit perdagangan hingga masalah pemaksaan transfer teknologi.

Di sisi lain, China pun mengkritisi AS karena telah mengambil langkah proteksionisme dan pengukuran unilateral. Oleh karena itu, China berjanji akan tetap membuka perekonomiannya dan menyediakan lingkungan yang transparan dan adil bagi pebisnis asing.

Untuk mengurangi tensi dagang tersebut, bulan lalu China dan AS telah mempertemukan pejabat di level menengah untuk berunding. 

Namun, pertemuan selama dua hari itu tidak menghasilkan titik cerah. Malahan, tensi dagang semakin meningkat karena AS dan China kembali memberlakukan tarif sebesar 25% untuk impor senilai US$16 miliar.

Adapun kini kedua negara tengah menargetkan produk impor dari masing-masing negara yang senilai US$50 miliar untuk dikenakan tarif berikutnya. Hal ini pun menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik AS dan China dapat merusak pertumbuhan ekonomi global.

Tag : ekonomi china
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top