Indeks Manufaktur Indonesia Menguat, Ekonomi Utama Asia Justru Melemah

Kinerja manufaktur Indonesia berhasil menguat pada Agustus. Di sisi lain, negara-negara ekonomi utama Asia lainnya, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, yang bergantung dengan ekspor mulai tertekan akibat melemahnya permintaan global.
Dwi Nicken Tari | 03 September 2018 19:18 WIB
Manufaktur China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja manufaktur Indonesia berhasil menguat pada Agustus. Di sisi lain, negara-negara ekonomi utama Asia lainnya, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, yang bergantung dengan ekspor mulai tertekan akibat melemahnya permintaan global.

Indeks Pembelian Manajer (Purchasing Managers’ Index/PMI) dari Nikkei yang disesuaikan untuk Indonesia menguat ke level 51,9 pada Agustus, dari 50,5 pada bulan sebelumnya. Namun, perolehan tersebut tetap lebih lemah ketimbang rata-rata historis indeks PMI Indonesia.

Ekonom IHS Markit Aashna Dodhia yang menyusun survei tersebut mengungkapkan bahwa periode Agustus memperlihatkan tingkat kesehatan sektor manufaktur Indonesia berhasil naik dalam laju tercepat selama lebih dari dua tahun.

“Hal itu didorong oleh penguatan permintaan baru sejak Juli 2014 dan kenaikan rekor tingkat ketenagakerjaan. Data PMI menunjukkan bahwa kenaikan terkini didorong oleh penguatan permintaan domestik,” ujarnya seperti dikutip dari pernyataan, Senin (3/9/2018).

Adapun survei tersebut menunjukkan bahwa sektor manufaktur telah meningkatkan produksinya untuk menyamai kenaikan permintaan. Untuk itu, perusahaan pun menambah jumlah karyawan dalam laju tercepat sejak April 2011.

“Akan tetapi, indikator PMI lainnya menunjukkan bahwa perekonomian [Indonesia] tetap menghadapi sejumlah tantangan,” tambah Dodhia.

Dodhia mengingatkan bahwa biaya input manufaktur telah naik dalam laju tercepat selama tiga tahun terakhir disebabkan oleh melemahnya rupiah akibat penguatan dolar AS. Selain itu, permintaan ekspor baru untuk produk Indonesia pun terus menurun selama sembilan bulan berturut-turut.

Adapun dampak dari melemahnya permintaan ekspor baru secara global juga memukul ekonomi utama di Asia yang perekonomiannya bertopang dengan kinerja ekspor, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Hal itu membuktikan bahwa perusahaan mulai merasakan kerugian dari friksi dagang antara Amerika Serikat dan China yang berpotensi melambatkan pertumbuhan ekonomi global.

Di China, indeks PMI melemah menjadi 50,6 pada Agustus, turun dari 50,8 pada bulan sebelumnya.

Indeks PMI Jepang berada di level 52,5 pada Agustus atau naik tipis dari 52,3 pada Juli. Perolehan ini menunjukkan bahwa kinerja manufaktur Jepang tidak banyak berubah dari hasil pada kuartal I dan II/2018.

Sementara itu, indeks PMI Korea Selatan tetap berada di bawah level 50 yang mengindikasikan kontraksi pada Agustus sebesar 49,9, menguat dari 48,3 pada bulan sebelumnya. 

Hal ini pun memperlihatkan bahwa kondisi manufaktur gagal menaikkan kinerjanya di dalam setiap survei periode 6 bulan.

“Aksi saling balas tarif lebih banyak merugikan China daripada AS.Negara-negara Asia yang bergantung dengan perekonomian China pun khawatir akankah China berhasil menghindar dari perlambatan pertumbuhan,” kata Yoshiki Shinke, Kepala Ekonom di Dai-ichi Life Research Institute, Jepang, seperti dikutip Reuters.

Kampanye “Kembalikan Kejayaan Amerika’ milik Presiden AS Donald Trump pun telah menekan keyakinan di berbagai negara dan menekan saham-saham di Asia. Pasalnya, investor khawatir tensi dagang dapat merusak rantai penawaran global.

Adapun kekhawatiran tersebut dapat membekukan investasi bisnis dan perdagangan dan merusak pertumbuhan ekonomi global.

Sementara itu, perekonomian AS masih tetap solid ditopang oleh manfaat yang diberikan pemangkasan pajak dari Trump.

Tag : industri manufaktur
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top