Tren Kenaikan Inflasi Inti Patut Diwaspadai

Kendati IHK Agustus mengalami deflasi, tren kenaikan inflasi inti patut diwaspadai kedepannya di tengah gejolak nilai tukar yang menyentuh level Rp14.700 per dolar AS. 
Hadijah Alaydrus | 03 September 2018 19:25 WIB
Kebutuhan pokok di pasar tradisional. - Ilustrasi/Bisnis
Bisnis.com, JAKARTA - Kendati IHK Agustus mengalami deflasi, tren kenaikan inflasi inti patut diwaspadai kedepannya di tengah gejolak nilai tukar yang menyentuh level Rp14.700 per dolar AS. 
Inflasi inti pada Agustus secara tahunan meningkat menjadi 2,90% year on year/yoy dari level terendahnya 2,58% pada Februari lalu. 
Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Wisnu Wardana melihat deflasi pada Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Agustus disebabkan oleh menurunnya harga bahan makanan. 
Namun, dia menuturkan pihaknya memonitor harga impor seiring dengan adanya indikasi kenaikan harga di beberapa negara, seperti China, Singapura dan AS, akibat tren inflasi yang menguat. 
"Hal ini dibarengi dengan depresiasi rupiah yang mungkin dapat inflasi inti di dalam negeri meningkat," kata Wisnu, Senin (3/9/2018).
Adapun, Wisnu melihat kebijakan moneter bank sentral kemungkinan tidak ada perubahan seiring dengan adanya potensi inflasi yang lebih tinggi ke depannya.
"Namun langkah-langkah dapat diambil untuk mengelola tekanan ke transaksi berjalan di dalam negeri," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro menuturkan inflasi inti memang meningkat ke level tertinggi tahun ini sebesar 2,90% atau melampaui perkiraan sebesar 2,85%.
Namun, dia menilai angka ini masih relatif rendah berdasarkan pada standar historis dan sampai batas tertentu mencerminkan fundamental domestik yang sehat di Indonesia. 
"Kami percaya ada dampak terbatas dari depresiasi rupiah terhadap inflasi yang diimpor dan kepercayaan konsumen masyarakat. Dalam pandangan kami, pelemahan rupiah tidak perlu dikhawatirkan," ujar Satria. 
Hal yang sama juga dipaparkan oleh Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro. Menurutnya, inflasi inti secara tahunan yang mencapai 2,90% atau naik dibandingkan 2,87% pada Juli 2018 memang lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,89%.
Namun, dia menuturkan laju inflasi ini tetap perlu diperhatikan. Pasalnya, dia melihat adanya potensi peningkatan inflasi hingga 4,5% pada tahun depan seiring dengan tekanan harga minyak yang meningkat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menegaskan pihaknya tidak dapat melihat dampak imported inflation dari tekanan depresiasi rupiah. Pasalnya, perhitungan tersebut sangat kompleks dan perlu pencocokan data barang-barang impor dengan produksi. 
Tag : Inflasi
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top