KABAR GLOBAL 4 SEPTEMBER: Menakar Ketahanan Negara Berkembang Asia

Berita seputar ketahanan ekonomi negara-negara di Asia terhadap aksi jual menjadi sorotan media nasional pada hari ini, Selasa (4/9/2018).
Renat Sofie Andriani | 04 September 2018 08:54 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla (ketiga kanan) berfoto bersama dengan pemimpin Delapan Negara Berkembang (D-8) saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 di Istanbul, Turki, Jumat (20/10). - ANTARA/Setwapres

Bisnis.com, JAKARTA – Berita seputar ketahanan ekonomi negara-negara di Asia terhadap aksi jual menjadi sorotan media nasional pada hari ini, Selasa (4/9/2018).

Berikut rangkuman berita utama di sejumlah media nasional:

Menakar Ketahanan Negara Berkembang Asia. Ekonomi negara-negara di Asia terbukti relatif tahan menghadapi aksi jual yang menyerang negara berkembang, seperti di Turki. Namun, kawasan Asia tetap memiliki kerentanan dari sisi pasar obligasi, terutama obligasi berimbal hasil tinggi atau junk-bond market. (Bisnis Indonesia)

Trump Batalkan Rencana pada Hari Buruh. Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba-tiba membatalkan kunjungan pada hari Senin untuk bersiap untuk menghadapi China dan Kanada dalam ketegangan perdagangan pekan ini, ungkap juru bicara kepresidenan. (Bisnis.com)

Iran Catat Ekspor Terendah Sejak 2016, Brent Sentuh Rekor 2 Bulan. Harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam hampir dua bulan terakhir pada perdagangan Senin (3/9/2018) karena ekspor minyak mentah Iran jatuh, dengan pembeli Asia mengambil lebih sedikit kargo di negara Timur Tengah tersebut sebelum sanksi AS berlaku penuh. (Bisnis.com)

Argentina Atur Kebijakan Fiskal. Pemerintah Argentina berencana mengubah pajak yang dikenakan pada beberapa sektor komoditas. Serangkaian langkah fiskal ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan investor setelah nilai mata uang peso anjlok hampir 50% sepanjang tahun ini. (Kontan)

Agustus, Inflasi Turki Melonjak Hampir 18%. Pemerintah Turki mengatakan laju inflasi negaranya pada Agustus tahun ini mencapai level tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Hal itu dipicu oleh penurunan nilai mata uang lira terhadap dolar Amerika Serikat (AS). (Investor Daily)

Tag : ekonomi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top