Menko Perekonomian: Jangan Bandingkan Rupiah 2018 dan 1998

Pemerintah menyatakan situasi yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia pada 2018 dan 1998 berbeda sehingga tidak layak untuk membandingkan kondisi nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini seperti pada masa lalu.
Yodie Hardiyan | 04 September 2018 14:09 WIB
Menko Perekonomian Darmin Nasution - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah menyatakan situasi yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia pada 2018 dan 1998 berbeda sehingga tidak layak untuk membandingkan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini seperti pada masa lalu.

Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution seusai menemui Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/9/2018) bersama dengan sejumlah pejabat sektor ekonomi lainnya.

Kurs Tengah Melemah, BI Gencarkan Intervensi Rupiah

Kurs Jisdor Ditetapkan Rp14.840, Rupiah Rebound di Pasar Spot

Rupiah Tahan Tenaga IHSG, Afirmasi Fitch Ratings Beri Harapan

Seperti diketahui, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencapai Rp14.780 pada pertengahan hari, Selasa (4/9/2018). "Jangan bandingkan Rp14.000 sekarang dengan Rp14.000 pada 20 tahun lalu. 20 tahun lalu itu berangkatnya dari Rp2.800, naik menjadi Rp14.000," kata Darmin.

Seperti diketahui, kondisi saat ini atau nilai tukar Rupiah yang mencapai level Rp14.000 merupakan hasil peningkatan dari Rp13.000. Pada 2014, ujar Darmin, nilai tukar Rupiah juga pernah meningkat dari Rp12.000 menjadi Rp14.000.

Persoalan 1998

Darmin menyatakan keheranannya dengan salah satu media internasional yang membandingkan nilai tukar Rupiah pada saat ini dengan kondisi pada 1998-1999. "Persoalan tahun 1998 itu 5-6 kali lipat itu (daripada saat ini)," katanya.

Darmin menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat pada saat ini. Salah satu kelemahan yang dimiliki oleh Indonesia pada saat ini adalah defisit transaksi berjalan yang mencapai 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Dilihat dari sudut manapun, walau kita ada kelemahan pada transaksi berjalan, ini bukan penyakit baru. Dari 40 tahun yang lalu transaksi berjalan, kita itu defisit. Memang ini agak besar tapi tidak setinggi 2014, tidak setinggi 1994-1995, tidak setinggi  1984."  --Menko Perekonomian Darmin Nasution--

Seperti diketahui, defisit transaksi berjalan mencapai US$8 miliar pada kuartal II/2018 atau sekitar 3% dibandingkan dengan PDB Indonesia yang mencapai Rp3.684 triliun pada kuartal II/2018. Darmin mengatakan defisit transaksi berjalan Indonesia masih lebih kecil dibandingkan dengan Brazil, Turki dan Argentina.

"Dilihat dari sudut manapun, walau kita ada kelemahan pada transaksi berjalan. ini bukan penyakit baru. Dari 40 tahun yang lalu transaksi berjalan, kita itu defisit. Memang ini agak besar tapi tidak setinggi 2014, tidak setinggi tahun 1994-1995, tidak setinggi tahun 1984," kata Darmin.

BACA

Darmin berpesan supaya dalam membaca atau membandingkan data lebih fair.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top