Gonjang-ganjing Rupiah, Koperasi Solusi Jangka Menengah

Asosiasi Manager Koperasi Indonesia kritisi pemerintah perlu melibatkan koperasi di tengah situasi gonjang-ganjing rupiah seperti saat ini, yang sudah menembus level Rp14.900.
Rinaldi Mohammad Azka | 05 September 2018 09:48 WIB
Kantor Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) Jasa di Kawasan Gatot Subroto - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Manager Koperasi Indonesia kritisi pemerintah perlu melibatkan koperasi di tengah situasi gonjang-ganjing rupiah seperti saat ini, yang sudah menembus level Rp14.900.

Ketua Umum Asosiasi Manajer Koperasi Indonesia (AMKI) Sularto melihat ada yang salah dalam penanganan nilai tukar rupiah yang sudah terjadi sangat lama pada beberapa rezim pemerintahan termasuk pada kabinet Jokowi saat ini.

"Kondisi ini terjadi karena kebijakan kurang tepat sehingga timbul double deficit, trade deficit dan financial deficit. Defisit neraca berjalan mencapai US$ 8 miliar sampai bulan Juli 2018 dan utang telah mencapai 34% dari PDB," ungkapnya dalam keterangan resmi, Rabu (5/9/2018).

Saat ini lanjutnya, pelemahan rupiah hanya didekati dari sisi moneter. Dia mencermati pelemahan rupiah dalam jangka panjang harus diselesaikan pada upaya membangun sektor riil yang tangguh yang melibatkan koperasi dan UKM di negeri ini.

Menurutnya, jika pembangunan koperasi berjalan benar, koperasi yang berbasis sektor riil akan hidup dan fundamental ekonomi akan kuat. Fundamental ekonomi yang kuat harus digerakkan pada upaya membangun industri yang bukan hanya mampu mencukupi kebutuhan ekonomi dalam tetapi juga berorientasi ekspor.

"Saat ini nyaris tidak ada koperasi yang mampu bergerak di sektor riil apalagi menyumbang ekspor. Seperti yang kita ketahui bersama ekspor Indonesia saat ini paling banyak didominasi oleh ekspor bahan mentah," jelasnya.

Bangun Koperasi

Sularto mengungkap pemerintah harusnya berkepentingan membangun koperasi lebih kuat dalam tata perekonomian kita saat ini. Jika melihat data anggota koperasi Indonesia Desember 2017, jumlah koperasi aktif di Indonesia ada sebanyak 153.171 unit dengan jumlah anggota 26.535.640 orang.

Membangun koperasi yang kuat, jelasnya, berarti telah meningkatkan kapasitas ekonomi yang kuat bagi paling tidak 26,5 juta penduduk negeri ini.

"Kami mencatat dari sekian ribu koperasi di Indonesia koperasi yang bergerak di sektor riil apalagi berkontribusi pada ekspor masih bisa dihitung jari. Hal ini adalah ironi di tengah usia koperasi Indonesia yang sudah 71 tahun lebih," katanya.

Berdasarkan data 2017, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mengumumkan kontribusi sektor koperasi terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) per triwulan III 2017 mencapai 4,48 persen. Adapun nilai PDB nasional per triwulan III 2017 mencapai Rp 10.096 triliun.

Dengan demikian, kontribusi sektor koperasi terhadap PDB Nasional, berdasar data per triwulan III 2017, nilainya setara Rp 452 triliun.

"Kami menyakini jika koperasi sektor produksi dan berorientasi ekspor dibangun dengan baik, kontribusi koperasi terhadap PDB akan naik. Kami meyakini jika sumbangan koperasi terhadap PDB mencapai 2 digit fundamental ekonomi kita akan kuat karena berarti ekonomi ditopang bukan hanya oleh investasi asing dan hutang," terangnya.

Sularto berharap pemerintah tidak lagi selalu berorentasi menyelesaikan masalah dengan jalan pintas. Jalan pintas yang dimaksud dengsn Intervensi Bank Indonesia dengan penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk perbaikan nilai tukar rupiah terhadap AS sudah sebesar Rp18,5 triliun, secara year to date, Rabu (12/7/2018).

"Kami melihat saat inilah tepat untuk mensinergikan beberapa kementrian terkait untuk menumbuhkan dan membangun koperasi sektor riil berbasis produksi yang mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri dan berorintasi ekspor," jelasnya.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top