Tekanan Mata Uang Emerging Market hingga Tarif Dagang AS-China Jadi Sorotan Hari Ini

Berikut adalah beberapa topik yang dibicarakan oleh pelaku pasar saat ini, mulai dari aksi jual yang kembali menghampiri pasar negara berkembang dan Korea Selatan yang mulai bergerak untuk membicarakan denuklirisasi dengan Korea Utara.
Dwi Nicken Tari | 05 September 2018 11:50 WIB
. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Berikut adalah beberapa topik yang dibicarakan oleh pelaku pasar saat ini, mulai dari aksi jual yang kembali menghampiri pasar negara berkembang dan Korea Selatan yang mulai bergerak untuk membicarakan denuklirisasi dengan Korea Utara.

Kekhawatiran Emerging Market

Aksi jual di emerging market pada Selasa membuat Afrika Selatan memasuki masa resesi dan rupiah Indonesia bergabung dengan mata uang Turki dan Argentina yang anjlok ke level terendahnya.

Indeks MSCI yang terdiri dari mata uang negara berkembang juga melemah untuk kelima kalinya dalam enam hari terakhir, ditutup turun ke level terendahnya selama lebih dari setahun, rand Afrika Selatan memimpin pelemahan mata uang secara global, dan lira Tukri tergelincir karena muncul kekhawatiran bahwa upaya bank sentral yang ingin mengubah kebiakan moneter pada pekan depan dapat mengecewakan investor.

Semenara itu, peso Argentina ditutup melemah ke level terendahnya selama dua dekade terakhir kendati bank sentral telah berupaya untuk menjaga nilai tukarnya.


Tarif Trump Menargetkan Ambisi Industri China

Konflik antara kebijakan industri China merupakan pusat perhatian perang dagang yang diciptakan oleh Presiden AS DOnald Trump. Pekan ini, Pemerintahan Trump dijadwalkan untuk memberlakukan tarif untuk produk impor asal China yang nilainya mencapai US$200 miliar. 

Inti dari kebijakan industri China yang tidak disukai Washington adalah rencana Made in China 2025, yaitu ambisi yang ingin membuat China mendominasi industri, mulai dari robotik hingga kendaraan berenergi terbarukan dan antariksa.

Adapun rencana Made in China 2025 tidak memiliki target khusus terhadap perusahaan China untuk saling berebut pasar domestik maupun global. Namun, rencana yang terdiri dari 296 halaman tersebut dipenuhi oleh tujuan yang dapat menghalangi perusahaan asing memasuki segmen industri di China dan mengancam terjadinya kekacauan di dalam bisnis global.


Eksodus ETFJepang Tidak Menggusarkan BlackRock

Beberapa investor khawatir tentang dampak yang dibawa keputusan Bank Sentral Jepang (BOJ) yang ingin menarik dukungannya dari pasar saham Jepang. Namun, pengelola keuangan terbesar dunia melihat tidak ada alasan untuk khawatir.

Kepala bisnis iShares dari BlackRock Inc. di Tokyo memperkirakan bakal ada beberapa volatilitas awal di dalam ekuitas ketika BOJ mengumumkan perlambatan pembelian exchang-traded funds (ETF).

“Tapi hal itu juga akan diartikan sebagai tanda kepercayaan diri bank sentral di dalam perekonomian dan pasar,” katanya, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (5/9/2018).

Adapun BOJ memiliki anggaran pengeluaran sebesar 6 triliun yen (US$54 miliar) per tahun untuk ETF sejak otoritas moneter Jepang tersebut menggandakan target pembeliannya pada 2016, ketika memberlakukan program stimulus longgar.

Beberapa pihak kini memperkirakan Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda dan koleganya tengah diam-diam berusaha untuk keluar dari program stimulus longgar tersebut. Pasalnya pembelian EFT telah berkurang pada Juli dan Agustus. Namun, bank sentral menolak perkiraan dan spekulasi itu.


Pembicaraan Nuklir Disegerakan

Perwakilan Korea Selatan akan berupaya mengadakan pembicaraan denuklirisasi antara AS dan Korea Utara. Sejauh ini, Presiden Trump telah memperlihatkan frustrasinya atas negosiasi tersebut.

Lima orang delegasi yang dikirimkan oleh Presiden Korsel Moon Jae-in dijadwalkan tiba di Pyongyang pada Rabu (5/9/2018) pagi. 

Tim yang terdiri dari Kepala Kantor Keamanan Nasional Korsel Chung Eui-yong dan Kepala Layananan Intelijen Nasional Korsel Suh Hoon—yang membantu pertemuan bersejarah antara Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un—diperkirakan bakal mendapat tantangan yang lebih sulit di dalam pembicaraan kali ini. 

Pasalnya, perbedaan pendapat terhadap laju dan upaya untuk menghilangkan nuklir di Korut yang dapat mengakhiri Perang Korea mulai meninggi,


Upaya Indonesia Menopang Rupiah

Indonesia berencana menunda proyek tenaga listrik senilai US$25 miliar sebagai upaya mengurangi defisit neraca berjalan dan mengurangi dampak aksi jual rupiah.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menyampaikan  bahwa pemerintah akan menunda hampir setengah dari rencana proyek tenaga listri 35 GW untuk melonggarkan tekanan impor.

Dia menambahkan bahwa langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi impor sekitar US$8—US$10 miliar. Adapun Pemerintah Presiden Indonesia Joko Widodo memang sedang melakukan upaya intensif untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia pun telah mengadopsi beberapa langkah untuk meningkatkan likuiditas. Otoritas moneter tersebut juga menyampaikan bahwa spekulasi di dalam pasar valas akan lebih dikendalikan untuk mengurangi volatilias sementara pemerintah berencana menekan impor beberapa produk konsumen.

Tag : sentimen pasar
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top