PMI Sektor Jasa China Lesu Pada Agustus

Pertumbuhan sektor jasa China melesu pada Agustus, saat bisnis baru hanya mengalami sedikit peningkatan dari level terendahnya dalam lebih dari dua tahun pada Juli.
Renat Sofie Andriani | 05 September 2018 12:27 WIB
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan sektor jasa China melesu pada Agustus, saat bisnis baru hanya mengalami sedikit peningkatan dari level terendahnya dalam lebih dari dua tahun pada Juli.

Indeks manajer pembelian (purchasing managers’ index/PMI) jasa Caixin/Markit turun menjadi 51,5 pada Agustus, level terendah dalam 10 bulan, dari 52,8 pada Juli. Meski turun, PMI jasa China tetap berada di atas level 50 yang memisahkan pertumbuhan dari kontraksi.

Penurunan pada sektor kunci dari ekonomi tersebut datang saat pemerintah China menghadapi eskalasi perang perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).

Konflik dengan negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia ini pun mengancam sektor manufaktur besar China seiring dengan mendalamnya perlambatan domestik.

Ancaman tarif baru oleh pemerintah AS juga dapat menambah tekanan pada pekerjaan-pekerjaan manufaktur. Pemerintahan Presiden Donald Trump akan segera memutuskan perihal pengenaan bea masuk atas impor China senilai US$200 miliar pada pekan ini.

Data Caixin pada sektor jasa tersebut mengikuti survei terpisah pada Senin (3/9/2018) yang menunjukkan pertumbuhan aktivitas manufaktur China dengan laju paling lambat dalam lebih dari setahun pada Agustus seiring dengan menyusutnya pesanan ekspor untuk bulan kelima.

Menurut survei hari ini, terdapat tanda-tanda meningkatnya tekanan biaya hulu di industri jasa, saat harga input naik secara signifikan dan lebih cepat dari harga yang dikenakan.

Sementara itu, keyakinan dalam berbisnis di masa depan meningkat dari rekor terendahnya pada Juli, meskipun tetap jauh di bawah rata-rata. Pertumbuhan dalam bisnis baru, yang pada Juli melambat ke level terlemah sejak Desember 2015, hanya mengalami sedikit peningkatan bulan lalu.

Adapun PMI gabungan (composite) Caixin China yang mencakup sektor manufaktur dan jasa turun ke posisi 52,0 pada Agustus dari 52,3 pada bulan sebelumnya.

“Indeks komposit menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap pada arah ke bawah. Terdapat tekanan inflasi karena kenaikan harga input dan harga output berakselerasi,” jelas Zhengsheng Zhong, direktur analisis makroekonomi di CEBM Group, dalam sebuah pernyataan yang menyertai survei tersebut.

Dengan pertumbuhan yang lebih lesu terlihat di seluruh perekonomian China, para pembuat kebijakan telah berupaya membendung perlambatan dengan menjanjikan lebih banyak pengeluaran infrastruktur dan peningkatan pinjaman.

“Data PMI bulan Agustus mengindikasi bahwa dampak dari kebijakan kredit ekspansif dan kebijakan fiskal aktif belum dirasakan. Tanda-tanda stagnasi muncul saat tekanan ke atas pada harga tetap ada meskipun tingkat permintaan melemah dengan laju lebih cepat.”

Tag : ekonomi china
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top