PM Kanada: Masih Ada 2 Isu yang Mengganjal dalam Renegosiasi NAFTA

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan bahwa Pemerintah Kanada tetap tegas untuk dua isu yang masih mengganjal di dalam pembicaraan renegosiasi Pakta Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).
Dwi Nicken Tari | 05 September 2018 18:04 WIB
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. - Bloomberg/Justin Chin

Bisnis.com, JAKARTA — Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan bahwa Pemerintah Kanada tetap tegas untuk dua isu yang masih mengganjal di dalam pembicaraan renegosiasi Pakta Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

Dia menyampaikan bahwa lebih baik NAFTA dibubarkan saja ketimbang Kanada dipaksa menerima kesepakatan yang buruk bagi negaranya.

Hal itu disampaikan Trudeau sehari sebelum AS dan Kanada melanjutkan kembali negosiasi NAFTA di Washington. Adapun, perundingan pekan lalu kendati mencapai beberapa kemajuan tetapi tidak mencapai kesepakatan apapun.

Trudeau menegaskan bahwa dia hanya akan menandatangani kesepakatan yang baik bagi Kanada. Keputusan tersebut diperkirakan bakal memicu realisasi dari ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengecualikan Kanada dari NAFTA jika kesepakatan tidak tercapai.

“Kanada tidak akan menandatangani Perjanjian NAFTA yang tidak melindungi kepentingan pekerja, kelas menengah, dan masyarakat Kanada,” kata Trudeau, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (5/9).

Lebih lanjut Trudeau menjelaskan dua isu yang masih mengganjal tersebut adalah mengenai panel anti-dumping yang diatur dalam Chapter 19 di dalam Perjanjian NAFTA dan klausul yang mengecualikan industri kultural Kanada dari NAFTA. Trudeu ingin agar dua hal tersebut tetap ada di dalam Perjanjian NAFTA yang baru.

“Kami telah sangat jelas bahwa ada beberapa hal yang ingin kami lihat [dalam Perjanjian NAFTA yang baru],” imbuh Trudeau.

Trudeau menjelaskan bahwa panel yang diatur dalam Chapter 19 tersebut merupakan panel penyelesaian konflik di dalam pembicaraan perdagangan bebas antara Kanada dan AS beberapa generasi lalu dan kini kembali dipermasalahkan. Bahkan sejauh ini, kata Trudeau, panel tersebut berjalan dengan baik dan sangat esensial di dalam menjaga keadilan hasil putusan.

“Kami memerlukan mekanisme penyelesaian konflik seperti dalam Chapter 19 dan kami akan tegas untuk mempertahankan itu,” kata Trudeau sambil menambahkan bahwa hilangnya Chapter 19 akan dipastikan membawa dampak buruk bagi masyarakat Kanada.

Selain itu, PM Kanada tersebut juga meminta agar NAFTA tetap mempertahankan aturan yang mengecualikan perdagangan sektor kultural milik Kanada. Pasalnya, Trudeau tidak ingin melihat jaringan televisi Kanada didominasi oleh raksasa dari AS.

“Pengecualian kultural harus berada di dalam aturan renegosiasi NAFTA. Itu akan menjadi pertaruhan kedaulatan dan identitas kami, dan itu adalah hal yang tidak dapat kami terima,” tegas Trudeau.

Sementara itu, sebelumnya AS dan Meksiko telah mencapai kesepakatan awal untuk merombak aturan NAFTA. Kanada baru bergabung kembali dalam pembicaraan pada pekan lalu dan tertekan untuk menerima segala kesepakatan yang telah dicapai oleh dua mitra tersebut.

Kini, batu sandungan renegosiasi NAFTA tinggal di antara AS dan Kanada. Trump pun mengancam untuk terus melangsungkan proposal NAFTA yang baru tanpa Kanada jika kesepakatan tidak dapat tercapai.

Namun, beberapa pembuat kebijakan AS dan sebagian besar pemimpin buruh di AS tetap meminta agar Trump tidak mengecualikan Kanada di dalam perjanjian NAFTA yang baru.

Adapun Pemerintah Trump telah memberitahu Kongres AS pada pekan lalu bahwa presiden akan menandatangani perjanjian NAFTA yang baru dengan Meksiko (kemungkinan juga dengan Kanada) dalam tempo 90 hari.

Oleh karena itu, Pemerintahan Trump kini harus dapat menyediakan naskah penuh Perjanjian NAFTA yang baru ke hadapan Kongres AS sebelum akhir bulan ini.

Adapun Perjanjian NAFTA yang baru diharapkan dapat diratifikasi sebelum presiden baru Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador dilantik pada 1 Desember 2018. 

Tag : nafta
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top