EDUKASI DUIT: Melawan Arus Gejolak Rupiah

Saat ini, perhatian masyarakat khususnya pelaku pasar keuangan tertuju pada gejolak nilai tukar rupiah yang terus mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Semua orang lagi bicara rupiah.
News Writer | 06 September 2018 12:32 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis/swi

Bisnis.com, JAKARTA — Saat ini, perhatian masyarakat khususnya pelaku pasar keuangan tertuju pada gejolak nilai tukar rupiah yang terus mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Semua orang lagi bicara rupiah.

Ada yang menyebut sangat mengkhawatirkan dan bakal mengulang krisis ekonomi 1998. Tapi di satu sisi, ada yang menanggapi dengan sangat santai. Kalau bagi para eksportir dan pelaku bisnis pariwisata, ini sangat nenguntungkan.

Pertanyaannya, sampai nilai berapa rupiah akan mencapai titik equilibrium baru? Untuk properti kenaikan bahan bangunan yang sangat sensitif adalah besi beton dan semen. Untuk barang asesoris seperti kunci impor, cat denganbahan baku impor umumnya masih tidak serta merta mengalami kenaikan.

Grafik suplai uang global itu berkembang termasuk Indonesia.  Uang tunai tadinya Rp1.400 triliun bertambah sekarang Rp5.500 triliun. Oleh karena itu otomatis rupiah itu floating dan menurun integrity-nya ibarat daun,  rupiah itu daun daun kering cepat mengering.

Oleh karena itu, bagi saya harta bukan uang tunai,  karena tidak memiliki nilai simpan.  Harta disebut emas,  properti, saham kecuali tunai dan saving. 

Lawannya saving adalah kredit bank.  Bagi nasabah kredit seperti saya karena bunga turun separuh dibandingkan dengabn 2016, saya migrasi kredit. Alhasil dapat top up double New money,  saya ketiban uang dengan cicilan tetap bunga separuh.

Selain itu kredit saya yang Rp2 miliar gara-gara depresiasi integrity-nya turun sendiri dapat potongan Rp100 juta tiap kali depresiasi.  Jalan 5 tahun kredit saya secara value integrity-nya jadi separuh vs harga properti. 

Alhasil harta bukan lagi tunai tapi kredit. Ini yang disebut resource sumber daya kapital.

Bagi pedagang tunai,  maka omzetnya akan terdegradasi seperti daun kering oleh karena itu omzet harus ditalangi kredit bank menjadi aset.  Aset Inilah harta. Yang menjadi patokan adalah ‘capital gain’ bukan omzet.

Jadi, saat rupiah berfluktuasi seperti ini jangan ikut-ikutan jadi spekulan. Atau malah menimbun. Menabung rupiah ya bisa kena stroke, membeli dolar ya fluktuasi. Cara yang benar, lawan. Lawannya uang tunai sekarang ya kredit di bank.

Penulis

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Motivator Uang.

Penulis buku seri Money Intelligent, New Money, dan New Money: Riba Siapa Bilang?

Untuk pertanyaan bisa diajukan lewat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, Edukasi Duit
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top