Sedekade Krisis Ekonomi Global Berlalu, Ini Catatan dari Lagarde

Tepat pada bulan ini 10  tahun yang lalu,institusi raksasa keuangan di Amerika Serikat, Lehman Brothers Holdings Inc., mengalami kebangkrutan yang akhirnya menyeret ekonomi global ke dalam masa krisis.
Dwi Nicken Tari | 06 September 2018 00:40 WIB
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Tepat pada bulan ini 10  tahun yang lalu,institusi raksasa keuangan di Amerika Serikat, Lehman Brothers Holdings Inc., mengalami kebangkrutan yang akhirnya menyeret ekonomi global ke dalam masa krisis.

Memperingati 10 tahun krisis ekonomi global tersebut, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde pun menuliskan sejumlah catatannya dalam laporan yang dipublikasikan dalam laman resmi IMF.

Lagarde mengungkapkan, krisis keuangan global pada 2008 lalu merupakan salah satu kejadian yang sangat menentukan dalam kehidupan, karena hal itu akan selalu diingat oleh generasi yang merasakannya.

Pasalnya, kondisi krisis ekonomi 10 tahun lalu telah menyebabkan biaya ekonomi yang ditanggung masyarakat meningkat, sedangkan upah riil tak bergerak. Belum lagi ketidakadilan yang dirasakan masyarakat melihat perbankan mendapatkan bailout dan bankir mendapat kekebalan hukum.

Krisis sistemik di dalam sistem keuangan global yang disebabkan oleh bangkrutnya Lehman Brothers pun mendorong sebanyak 24 negara menjadi korban. Hingga kini, sebagian besar tren aktivitas ekonomi global juga belum dapat kembali seperti semula.

“Kini, 10 tahun jatuhnya Lehman Brothers, yang saya sebut sebagai momen 'Holy Cow', memberikan kesempatan kepada kita untuk mengevaluasi respons terhadap krisis sedekade silam,” kata Lagarde, seperti dikutip dari pernyataannya, Rabu (5/9/ 2018).

Oleh karena itu, Lagarde mengingatkan bahwa pergerseran lanskap ekonomi politik yang membuat komitmen kerja sama internasional memudar harus dihindari. Dia menilai, kerja sama di tingkat dunia yang perannya dimainkan oleh negara kelompok 20 (G20), FSB (Financial Stability Board), dan IMF, serta pihak lain selama sedekade terakhir telah berhasil menahan krisis menjadi bentuk Depresi Besar yang lain.

“Tentu saja, pentingnya kerjasama internasional dalam menghadapi tantangan abad ke-21 merupakan salah satu pelajaran yang berharga dari krisis,” ujarnya.

Lagarde mengingatkan bahwa saat ini dunia tengah menghadapi tantangan baru, mulai dari potensi normalisasi regulasi keuangan, ketidaksetaraan, proteksionisme, kebijakan yang melihat ke dalam (inward-looking policies), dan meningkatnya ketidakseimbangan global.

Oleh karena itu, langkah yang diambil para pembuat kebijakan saat ini akan memperlihatkan apakah pengalaman yang diberikan oleh Lehman berhasil dipelajari dengan baik atau belum.

Sementara itu, krisis yang melanda pasar keuangan global sedekade silam telah mendorong bank sentral utama di dunia untuk menawarkan stimulus berlebihan, yang dikenal dengan masa uang murah atau stimulus longgar atau pelonggaran kuantitatif (QE).

Bertahun-tahun suku bunga dari bank sentral utama dunia dipertahankan di level terendah agar likuiditas di pasar cukup untuk menggerakkan perekonomian.

Adapun, kini perlahan-lahan target inflasi, seperti di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, mulai pulih dan mendekati target bank sentral di level 2% yang ditopang oleh kebijakan pemerintah dan pemulihan ekonomi global sendiri.

Hal itu pun membuat bank sentral kembali memainkan instrumen kebijakan moneternya, yaitu dengan menaikkan kembali suku bunga, agar ekonomi tidak bergerak terlalu panas.

Tag : krisis ekonomi, imf
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top