Berkat Usaha Perbaiki CAD, Rupiah Menguat

Setelah mengalami pelemahan cukup dalam seminggu terakhir ini, berdasarkan kurs referensi Jisdor, rupiah menjauhi ambang psikologis Rp15.000 ke level Rp14,884 atau menguat 0,28% dari level terlemahnya pada 5 September lalu.
Rinaldi Mohammad Azka | 07 September 2018 18:03 WIB
Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (2/7/2018)./ANTARA FOTO - Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah mengalami pelemahan cukup dalam seminggu terakhir ini, berdasarkan kurs referensi Jisdor, rupiah menjauhi ambang psikologis Rp15.000 ke level Rp14,884 atau menguat 0,28% dari level terlemahnya pada 5 September lalu.

Penguatan ini dinilai sebagai dampak positif komitmen pemerintah dalam perbaiki defisit transaksi berjalan.

Direktur Penelitian Centre of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan perbaikan nilai tukar merupakan wujud apresiasi pasar terhadap upaya pemerintah dalam menanggulangi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

"Saya memperkirakan pasar cukup mengapresiasi upaya pemerintah untuk menanggulangi CAD khususnya dengan mengurangi impor. Cukup banyak kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan terkesan ada kesungguhan pemerintah dalam hal ini," papar Piter kepada Bisnis, Jumat (7/9/2018).

Hal ini, lanjutnya, yang diapresiasi oleh pasar sehingga tren pelemahan rupiah sedikit tertahan dan rupiah kembali ke level Rp14.884.  Namun, dia mengingatkan agar pemerintah jangan senang dahulu karena sumber utama tekanan masih belum teratasi.

"Upaya pemerintah baru sedikit memengaruhi ekspektasi pasar, sementara sumber tekanan masih ada dan belum berkurang," ujar Piter.

Sumber yang dia maksud adalah kebijakan normalisasi perekonomian Amerika Serikat (AS) dengan menaikkan suku bunga acuannya masih akan terjadi, baik pada tahun ini maupun di tahun depan.

Konsisten dan Konsekuen

 Menurut Piter, perlu upaya konsisten dan konsekuen dari pemerintah dalam menjalankan kebijakan yang sudah dicanangkannya.

"Pasar akan terus mengapresiasi dan memperkuat rupiah apabila nanti pemerintah dan BI terus konsisten dengan kebijakan yang fokus ke perbaikan CAD dan itu perlu waktu. Konsistensi kebijakan pemerintah dan BI ini akan sangat menentukan," tambahnya.

Ke depan, jelas Piter, saat The Fed kembali menaikkan suku bunga, maka BI diharapkan perlu untuk menaikkan suku bunga acuannya guna mempertahankan jarak suku bunga, sehingga investasi di Indonesia dapat tetap menarik.

"Tujuannya menahan agar tidak terjadi modal asing keluar yang bisa menyebabkan pelemahan rupiah," imbuhnya.

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia per Agustus 2018 sebesar USD117,9 miliar sedikit lebih rendah dibandingkan dengan akhir Juli 2018 sebesar USD118,3 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman mengungkap cadangan devisa tersebut masih tinggi.

"Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,8 bulan impor atau 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," ungkapnya seperti dikutip dari keterangan resmi, Jumat (7/9/2018).

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Penurunan cadangan devisa pada Agustus 2018, lanjutnya, terutama dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat. 

"Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik, serta kinerja ekspor yang tetap positif," jelasnya.

 

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top