Pelemahan Rupiah, Masyarakat Tak Perlu Khawatir

Masyarakat diminta tidak perlu khawatir bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari waktu ini.
Puput Ady Sukarno | 07 September 2018 22:36 WIB
Pelanggan keluar dari gerai penukaran uang asing di Jakarta. - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Masyarakat diminta tidak perlu khawatir bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari waktu ini.

Bahkan, tiga hari lalu sempat menyentuh angka Rp15.000 per US$ dapat menyebabkan krisis seperti yang terjadi pada 1998. Pasalnya, dari segala indikator ekonomi politik antara yang terjadi pada 1998 dengan 2018 sangat jauh berbeda. 

Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden Denni Puspa Purbasari menyatakan bahwa Indonesia telah memiliki pengalaman sebagai negara yang pernah mengalami krisis-krisis sebelumnya, sehingga dipastikan dapat melakukan aksi pencegahan.

“Masyarakat tidak perlu panik dan reaksioner menghadapi kondisi ini. Situasi Indonesia ini jauh berbeda dibandingkan kondisi pada 1998 atau 2008. Satu hal yang pasti bahwa pada saat ini cadangan devisa kita jauh lebih kuat, lima kali lebih kuat dibanding 1998,”ujar Denni, seperti dalam keterangan resmi yang dikutip Bisnis, Jumat (7/9/2018).

Hal positif lain, Bank Indonesia (BI) mencatat adanya aliran masuk modal asing mencapai US$4,5 miliar ke Indonesia. 

"Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga solid serta peringkat surat utang pemerintah tidak masalah, sehingga kita masuk dalam investment grade yang bagus atau layak investasi menurut lima lembaga pemeringkat ekonomi,” ujarnya.

Kemudian, tak kalah penting adalah independensi Bank Indonesia.

“Ini beda dengan intervensi yang dilakukan pemerintah Turki dan Argentina terhadap bank sentralnya, sehingga ada hambatan ketika bank sentral ingin menaikkan suku bunga, misalnya,”kata Denni.

Pihaknya memastikan bahwa Pemerintah juga tidak bersikap santai menghadapi situasi ini.

“Pemerintah sangat mawas akan hal ini, dengan menguatkan koordinasi dengan otoritas moneter dan juga Otoritas Jasa Keuangan,” urainya.

Bank Sentral

 Tak kalah penting juga bahwa Indonesia memiliki hubungan cukup baik dengan bank sentral negara lain seperti Jepang, China, Korea Selatan, dan Australia. 

"Kita punya bilateral soft arrangement, jadi saat misalnya kita butuh dolar, kita bisa minta bank sentral negara-negara itu untuk memback-up, walaupun cadangan devisa kita saat ini ada US$118 milliar,” jelas doktor ekonomi lulusan University of Colorado itu. 

Denni memaparkan, pemerintah menahan harga BBM sejak tahun lalu demi menjaga daya beli masyarakat terjaga, termasuk dengan meningkatkan subsidi untuk solar serta efisiensi Premium oleh Pertamina. 

Terkait fluktuasi nilai rupiah terhadap Dolar AS, dia mengingatkan, bahwa sebagai negara pengekspor minyak dan beberapa komoditas lain, pemerintah juga mendapatkan ‘windfall’ berupa kenaikan PNBP. 

“Keuntungan ini antara lain digunakan untuk mensubsidi solar agar dapat menstimulasi produktivitas di bidang industri khususnya transportasi barang dan jasa,” paparnya.

Terkait daya dukung masyarakat, Denni masih melihatnya sebagai hal yang positif. Dapat dilihat bahwa konsumsi sudah tumbuh di atas 5%. Namun, pertumbuhan ini harus terus dipantau, beserta pula beberapa indikator lainnya. Intinya, berkaca dari indikator-indikator ekonomi yang baik tadi, masyarakat tidak perlu panik.

“Yang terjadi di dunia sana biarlah terjadi di sana, kita tetap saja fokus bekerja membangun bangsa,” katanya.

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top