PERANG DAGANG: Surplus Perdagangan China ke AS Naik Akibat Tensi Dagang

Peluang China untuk menghindar dengan hanya terkena “kerugian kecil” dari konflik perdagangan dengan AS semakin menipis. Pasalnya, pada Jumat (7/9/2018), Presiden AS Donald Trump berencana menggandakan ancaman tarifnya untuk produk impor asal China.
Dwi Nicken Tari | 09 September 2018 19:46 WIB
. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Peluang China untuk menghindar dengan hanya terkena “kerugian kecil” dari konflik perdagangan dengan AS semakin menipis. Pasalnya, pada Jumat (7/9/2018), Presiden AS Donald Trump berencana menggandakan ancaman tarifnya untuk produk impor asal China.

Trump mengumumkan bahwa dia akan mengenakan tarif tambahan untuk produk impor asal China senilai US$267 miliar, setelah memberlakukan tarif untuk produk impor asal China senilai US$200 miliar.

Adapun Pemerintahan Trump akan segera memberlakukan tarif untuk produk impor asal China senilai US$200 miliar dalam waktu dekat tergantung dengan situasi yang akan terjadi di depan.

“Saya tidak suka melakukan ini, tapi di baliknya [tarif untuk produk impor asal China senilaiUS$200 miliar] akan ada US$267 lainnya yang akan diberlakukan jika saya mau,” ujar Trump, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (9/9/2018).

Kendati beberapa ekonom menilai dampak tensi dagang terhadap China masih terbatas, Mantan Gubernur People’s Bank of China (PBOC)  Zhou Xiaochuan sempat mengingatkan bahwa tensi dagang dapat mengganggu keyakinan ekonomi secara meluas.

Data perdagangan China untuk Agustus yang dirilis pada Sabtu (8/9/2018) semakin menegaskan kembali alasan munculnya tarif-tarif dari AS, yakni surplus perdagangan China dengan AS.

Administrasi Bea dan Cukai China melaporkan bahwa pengiriman ekspor Negeri Panda naik 9,8% (dalam nilai dolar AS) dan impor juga naik 20% pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya.

Bloomberg pun menghitung dari data tersebut, surplus perdagangan China dengan AS pada Agustus ternyata mencapai rekor baru tertingginya dengan melebar hingga US$31,1 miliar kendati laju ekspor Negeri Panda telah lebih melambat sejak Maret. 

“Ekspor untuk AS tumbuh dalam laju cepat dari bulan sebelumnya karena eksportir mempercepat pengiriman sebelum tarif untuk produk asal China yang senilai US$200 miliar berlaku,” kata Gai Xinzhe, analis di Institute of International Financi Bank of China di Beijing, sambil menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi di AS juga turut menambah permintaan.

Senada, David Dollar, mantan Atase Tresuri AS di Beijing dan kini mitra senior di Brookings Institute, Washington, menjelaskan bahwa kunci utama pendorong melonjaknya surplus perdagangan China dengan AS adalah stimulus Keynesian yang dilakukan oleh Trump, yaitu stimulus yang diberikan pemerintah ketika perekonomian hampir mencapai kapasitas penuhnya.

“Tarif impor kemungkinan tidak akan mengubah realita [meningkatnya permintaan] tersebut,” katanya.

Sementara itu untuk China, Rajiv Biswas, Kepala Ekonom wilayah Asia Pasifik di IHS Markit, Singapura, mengingatkan bahwa semakin besar perhitungan tarif yang diberikan AS kepada China maka semakin besar pula pukulan yang diterima eksportir China. Selain itu, bukan tidak mungkin nantinya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China pada tahun depan juga dapat terganggu.

“Jika AS terus menambah pengukuran tarifnya terhadap China, sektor ekspor [China] akan menghadapi jalan berkerikil yang panjang kendati pemerintah terus berusaha mengurangi dampaknya [tensi dagang] ,” katanya.

Adapun beberapa jam sebelum ancaman terbaru Trump pekan lalu, Pemerintah China mengumumkan langkah-angkah untuk mendukung beberapa eksportir yang produknya ditargetkan oleh tarif AS. 

Kementerian Keuangan China mengatakan akan menaikkan tingkat potongan harga ekspor untuk 397 Jenis produk, mulai dari pelumas hingga buku anak-anak. Artinya, perusahaan yang mengirimkan produk-produk tersebut keluar negeri akan membayar pajak pertambahan nilai yang lebih rendah. Berdasarkan laman resmi Kemenkeu China, pajak ekspor baru itu akan mulai efektif per 15 September 2018.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top