Dampak Tarif Trump, Prospek Perdagangan China Lebih Suram

Peluang China untuk keluar dari konflik perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) juga menanggung kerugian yang minim pada ekonominya menipis.
Renat Sofie Andriani | 10 September 2018 07:48 WIB
Presiden AS Donald Trump berinteraksi dengan Presiden China Xi Jinping di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, AS, 6 April 2017. - .Reuters/Carlos Barria TPX

Bisnis.com, JAKARTA – Peluang China untuk keluar dari konflik perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) juga menanggung kerugian yang minim pada ekonominya menipis.

Pasalnya, pada Jumat (7/9/2018), Presiden AS Donald Trump menggandakan ancamannya untuk mengenakan tarif yang lebih tinggi atas barang-barang asal Tiongkok serta menyatakan siap mengenakan pajak terhadap semua impor dalam waktu singkat.

Meski para ekonom melihat dampak langsung dari tensi perdagangan ini masih terbatas, mantan Gubernur People's Bank of China (PBOC) Zhou Xiaochuan mengingatkan bahwa dampaknya terhadap keyakinan ekonomi mungkin bisa lebih besar.

Data perdagangan untuk Agustus yang dirilis pada Sabtu (8/9) menegaskan kekhawatiran ini. Surplus perdagangan China dengan AS naik menyentuh rekornya, sedangkan pertumbuhan ekspor secara keseluruhan melambat.

Satu titik terang adalah pertumbuhan impor dengan laju lebih cepat dari perkiraan. Ini menandakan bahwa permintaan domestik pada negara berkekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut masih bertahan untuk saat ini.

“Dengan langkah tarif AS berskala besar lebih lanjut dalam waktu dekat, eksportir China akan terpukul keras dan tingkat pertumbuhan PDB China pada 2019 kemungkinan akan tertekan,” ujar Rajiv Biswas, kepala ekonom Asia Pasifik di IHS Markit, seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (10/9).

“Jika AS terus meningkatkan langkah-langkah tarifnya terhadap China, sektor ekspor akan menghadapi jalan yang panjang dan sulit ke depannya meskipun pemerintah melancarkan langkah-langkah untuk mengurangi dampaknya.”

Data yang dirilis Sabtu menunjukkan surplus perdagangan China dengan AS melebar menjadi US$31,1 miliar selama Agustus, menurut perhitungan Bloomberg. Kenaikan ini terjadi meskipun ekspor mencatat peningkatan dengan laju paling lambat sejak Maret.

Badan Bea dan Cukai China melaporkan pengiriman ekspor China naik 9,8% (dalam dolar AS). Di sisi lain, impor tercatat naik 20% pada Agustus dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

“Ekspor untuk AS tumbuh dalam laju lebih cepat dari bulan sebelumnya karena eksportir mempercepat pengiriman sebelum tarif untuk produk asal China yang senilai US$200 miliar diberlakukan,” kata Gai Xinzhe, analis di Institute of International Finance Bank of China di Beijing.

Bertambahnya permintaan, tambahnya, juga ditopang pertumbuhan ekonomi di AS.

David Dollar, mantan Atase Keuangan AS di Beijing dan kini mitra senior di Brookings Institute, Washington, menjelaskan kunci utama pendorong melonjaknya surplus perdagangan China dengan AS adalah stimulus Keynesian yang dilakukan oleh Trump, yaitu stimulus yang diberikan pemerintah ketika perekonomian hampir mencapai kapasitas penuhnya.

Beberapa jam sebelum Trump melemparkan ancamannya pada Jumat, pemerintah China telah mengumumkan langkah-langkah untuk mendukung eksportir yang menjadi target pengenaan tarif lebih tinggi oleh AS.

Kementerian Keuangan China menyatakan akan menaikkan tingkat potongan harga ekspor untuk 397 jenis produk, mulai dari pelumas hingga buku anak-anak, efektif per 15 September 2018.  Artinya, perusahaan yang mengirimkan produk-produk tersebut keluar negeri akan membayar pajak pertambahan nilai yang lebih rendah. 

Menurut Lu Ting, kepala ekonom China di Nomura International Ltd., Hong Kong, walaupun terjadi pergeseran menuju pelonggaran kebijakan, penurunan pertumbuhan ekspor akan semakin menekan China. Hal ini disebabkan nilai tambah ekspor berkontribusi sekitar 10% dari PDB China.

“Perlambatan ekspor yang masuk menunjukkan mungkin diperlukan waktu lebih lama bagi pertumbuhan China untuk pulih,” katanya.

Sementara itu, jika skala perang dagang berlangsung habis-habisan, China dapat terpukul lebih keras oleh perubahan sentimen pasar alih-alih dampak langsung dari pengenaan tarif.

“Pelaku pasar bisa menjadi gelisah. Tidak ada yang benar-benar tahu. Tiba-tiba ada perang dagang. Mereka mungkin berubah pikiran dalam hal investasi pasar saham,” tutur Zhou.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top