Defisit Transaksi Berjalan Melebar, Rupee India Terjerembap

Rupee bahkan telah membukukan serangkaian rekor terendah, sekaligus meredam optimisme tentang pertumbuhan ekonomi India yang sempat membawa pasar saham lokal ke rekor tertingginya bulan lalu.
Renat Sofie Andriani | 10 September 2018 20:08 WIB
Rupee India - web

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja mata uang rupee dan obligasi India terjerembap setelah defisit transaksi berjalan Negeri Hindustan dilaporkan melebar mencapai nilai terbesarnya dalam lima tahun.

Dilansir dari Bloomberg, nilai tukar rupee sempat terjerembap hingga 1,3% terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Senin (10/9/2018), pelemahan terbesar dalam sebulan ke level terendahnya di 72,6738.

Rupee mampu sedikit mengikis pelemahannya dan ditutup melemah 0,98% di posisi 72,4450 berdasarkan data Bloomberg, merespons pernyataan seorang pejabat kementerian keuangan India bahwa pemerintah dapat mengambil langkah-langkah demi membendung aksi jual.

Tetap saja, pelemahan yang berkelanjutan telah mendorong pihak otoritas meminta bank sentral India (Reserve Bank of India/RBI) untuk melakukan intervensi dengan lebih agresif demi menjaga nilai tukar rupee, menurut sumber Bloomberg.

“Meski Reserve Bank of India telah melakukan intervensi di pasar valas, ukuran intervensi baru-baru ini terlihat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sebelumnya,” kata Khoon Goh, kepala riset di Australia and New Zealand Banking Group Ltd.

“Pelemahan rupee yang berlanjut bermula dari penguatan dolar AS dan kekhawatiran atas posisi eksternal India,” tambah Khoon.

Dalam sebulan terakhir, nilai tukar rupee telah terperosok di tengah aksi jual yang menyapu pasar negara berkembang, menyusul kejatuhan pada mata uang Argentina dan Turki.

Rupee bahkan telah membukukan serangkaian rekor terendah, sekaligus meredam optimisme tentang pertumbuhan ekonomi India yang sempat membawa pasar saham lokal ke rekor tertingginya bulan lalu.

Shortfall Minyak

Pemerintah sadar benar akan kemerosotan yang dialami rupee. Pemerintah pun dinyatakan dapat mengambil langkah-langkah, termasuk memperkenalkan rencana deposit untuk warga India di luar negeri, demi membendung aksi jual yang berlangsung.

Komentar tersebut membantu rupee mengurangi pelemahan hari ini, yang sebagian didorong data melebarnya defisit transaksi berjalan pada kuartal Juni menjadi US$15,8 miliar.

Imbal hasil acuan pun naik 13 basis poin menjadi 8,16%, tertinggi sejak 2014, sedangkan indeks S&P BSE Sensex mengalami penurunan terbesar sejak Maret. Defisit itu mewakili 2,4% dari produk domestik bruto atau lebih dari 1,9% yang terlihat pada kuartal Maret, menurut RBI.

Yang terburuk kemungkinan belum akan muncul mengingat rencana anggaran impor minyak, untuk pengguna minyak dengan pertumbuhan tercepat di dunia tersebut melonjak 76% pada Juli dari tahun sebelumnya menjadi US$10,2 miliar.

“Defisit itu kemungkinan akan melebar menjadi 2,5% dari PDB tahun ini di tengah kenaikan harga komoditas dan aliran dana keluar,” ujar Dhananjay Sinha, analis Emkay Global Financial Services.

Dia pun memperkirakan rupee akan melemah lebih lanjut ke level terendahnya di 75 per dolar AS, sedangkan imbal hasil acuan mencapai 8,40%.

Sementara itu, investor asing telah menjual obligasi India senilai US$601 juta bulan ini, lebih dari gabungan senilai US$459 juta yang mereka beli pada bulan Juli dan Agustus.

Dalam wawancara dengan Economic Times, Menteri Ekonomi India Subhahs Garg menyebutkan bahwa tingkat yang tepat untuk rupee adalah 68-70 per dolar. Menurutnya, level 72 “kemungkinan batas luar atau di luar batas luar yang wajar untuk depresiasi.”

“Para operator yang mencoba mengambil keuntungan dari pergolakan pada pasar negara berkembang mungkin akan menyesal kemudian,” tegas Garg mengingatkan.

Tag : india
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top