Bagaimana Kondisi APBN 2018? Ini Kata Ekonom

Bisnis.com, JAKARTA - Direktur Penelitian Centre of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah sependapat bahwa kondisi APBN 2018 masih dalam keadaan sehat.
Puput Ady Sukarno | 11 September 2018 21:09 WIB
Ilustrasi APBN - Kemenkeu

Bisnis.com, JAKARTA - Direktur Penelitian Centre of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah sependapat bahwa kondisi APBN 2018 masih dalam keadaan sehat.

Pasalnya, sisi penerimaan perpajakan yang menjadi tumpuan utama dari postur APBN mencatatkan realisasi yang sesuai dengan target dan terjadinya depresiasi rupiah justru memberikan keuntungan secara fiskal bagi APBN 2018.

"Kalau dilihat dari postur APBN kita sangat andalkan pajak. Dan Alhamdulillah yang perlu kita syukuri adalah target penerimaan pajak pemerintah sampai saat ini masih on the track," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (11/9/2018).

Meskipun, pada awal tahun, Piter mengakui sempat pesimistis atas target penerimaan pajak tahun ini yang dipatok hingga sekitar Rp1.500 triliun.

Pasalnya, kala itu Piter melihat bahwa target tersebut terlalu optimistis dan akan sangat mustahil dicapai, mengingat target pada 2017 yang sebesar Rp1.200 trililun saja tidak tercapai.

"Tapi ternyata dalam perjalannya sampai Agustus 2018 sudah sekitar 60%, ya ini sudah on the track. Ini belum kita masukkan unsur depresiasi rupiah di sana, maka APBN kita saat ini memang sehat," ujarnya.

Namun demikian, saat ini yang menjadi pertanyaan banyak pihak, berkaitan dengan depresiasi rupiah, apakah hal tersebut membebani APBN 2018.

Karena masyarakat melihat kurs rupiah saat ini yang hampir menyentuh Rp15.000 tersebut sudah melebihi asumsi makro yang dibuat sebelumnya pada kisaran Rp13.400.

Atas hal itu, Piter justru menilai bahwa dengan adanya depresiasi rupiah semakin menguntungkan secara fIskal pada APBN 2018.

"Nah kalau kita masukkan unsur nilai tukar rupiah, ternyata tidak hanya menambah beban belanja, tetapi juga menambah pendapatan. Bahkan nilainya lebih besar di sisi pendapatannya. Jadi yang kita rasakan setiap ada pelemahan rupiah, sebenarnya APBN kita diuntungkan karena ada tambahan penerimaan," ujarnya.

Namun demikian, meskipun dengan adanya depresiasi rupiah memandikan APBN semakin solid, pelemahan rupiah tidak bisa dibiarkan begitu saja.

"Kalau depresiasi rupiah justru menguntungkan, lalu apa kita biarkan saja? Ya tidak bisa begitu. Karena dampak ekonomi dari pelemahan nilai tukar ini tidak bagus untuk banyak hal, di luar fiskal APBN, sehingga harus terus dijaga stabilitasnya," ujarnya.

Tag : apbn
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top