Keseimbangan Primer Agustus Surplus, Jadi Sentimen Positif Jangka Pendek

Keseimbangan primer APBN per Agustus 2018 tercatat pada posisi surplus sebesar Rp11,5 triliun. Jumlah tersebut dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi investasi portofolio dalam jangka pendek.
Rinaldi Mohammad Azka | 13 September 2018 07:48 WIB
APBN - Ilustrasi
Bisnis.com, JAKARTA - Keseimbangan primer APBN per Agustus 2018 tercatat pada posisi surplus sebesar Rp11,5 triliun. Jumlah tersebut dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi investasi portofolio dalam jangka pendek.
 
Project Consultant Asian Development Bank (ADB) Institute, Eric Alexander Sugandi menilai surplus keseimbangan primer ini dapat menjadi angin segar di tengah berbagai sentimen negatif yang terus muncul terhadap nilai tukar rupiah saat ini.
 
"Bisa memberikan sentimen positif untuk pasar, tapi untuk jangka waktu sangat pendek sehari atau dua hari. Namun, nantinya juga tergantung pada isu apa yang sedang dominan di pasar finansial dan valas," jelasnya kepada Bisnis Rabu (12/9/2018). 
 
Menurutnya, jumlah tersebut menjadi sentimen positif terutama bagi para lembaga rating atau penilai investasi. Hal tersebut menurutnya dapat menjadi catatan positif bagi investasi di Indonesia.
 
Keseimbangan primer yang positif tersebut diungkap Kementerian Keuangan, berdasarkan realisasi penerimaan negara yang setara 60,8% dari target penerimaan Rp1.894,7 triliun sebesar Rp1.151,97 triliun. Jumlah tersebut tumbuh 18,4% dibandingkan dengan perolehan sama tahun lalu yang hanya tumbuh sebesar 11%.
 
Penopangnya berasal dari lonjakan pertumbuhan realisasi penerimaan sektor perpajakan yang tumbuh mencapai 16,5% per 31 Agustus 2018, serta PNBP yang tumbuh 24,3%. 
 
"Penerimaan yang positif ini salah satunya karena kenaikan harga minyak, selain juga karena pemerintah gencar melakukan pengumpulan pajak," jelas Eric.
 
Sementara itu, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kemenkeu Adrianto mengatakan bahwa penerimaan yang tumbuh baik memang menjadi faktor utama alasan keseimbangan primer membaik.
 
"Penerimaan negara yang masih tumbuh baik menyebabkan primary balance positif di Agustus 2018," ungkapnya kepada Bisnis.
 
Menurutnya, pertumbuhan penerimaan ini juga dibarengi dengan pertumbuhan belanja, tetapi khusus untuk belanja angka pertumbuhannya masih dalam hitungan Kemenkeu.
 
Secara terpisah, Chief Investment Officer IndoSterling Capital Fitzgerald Stevan Purba mengungkapkan tren capital outflow di Indonesia tidak akan berlangsung lama, karena menurutnya Indonesia secara jangka panjang tetap dinilai sebagai negara layak investasi.
 
Dengan demikian, lanjutnya, dalam waktu dekat investasi portofolio Indonesia akan kembali menarik. "Mereka (investor) masih berpandangan 10 tahun ke depan kita lebih stabil, kekhawatirannya terhadap triple deficit yang tengah terjadi saja," paparnya.
 
Menurutnya, saat ini para investor tengah dalam posisi bertanya-tanya mengenai bagaimana pemerintah mengelola negara Indonesia di tengah ketidakpastian global. 
 
Secara fundamental lanjutnya, investor masih menilai Indonesia sebagai negara yang menarik bagi investasi terutama setelah lembaga rating investasi memberikan nilai layak investasi terhadap Indonesia. "Dimana lagi negara yang layak investasi dengan yield surat berharga negara (SBN) semenarik Indonesia," selorohnya.
 
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka rebound pada perdagangan hari ini, Selasa (12/9/2018). Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat 9 poin atau 0,06% di level Rp14.848 per dolar AS.
 
Pada penutupan perdagangan, mata uang Garuda berhasil rebound ke level Rp14.832 setelah ditutup di zona merah pada Senin (10/9/2018) lalu.
Tag : apbn
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top