Pemerintah dan DPR Akan Sepakati Asumsi Makro APBN 2019, Rupiah Jadi Sorotan

Pemerintah bersama DPR direncanakan menyepakati asumsi makro untuk RAPBN 2019 pada Kamis (13/9/2018). Sejumlah asumsi menjadi sasaran revisi terutama rupiah yang sudah di atas level asumsi awal.
Rinaldi Mohammad Azka | 13 September 2018 09:51 WIB
Karyawan memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu bank di Jakarta. - JIIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah bersama DPR direncanakan menyepakati asumsi makro untuk RAPBN 2019 pada Kamis (13/9/2018). Sejumlah asumsi menjadi sasaran revisi terutama rupiah yang sudah di atas level asumsi awal.

Rupiah berhasil rebound dan ditutup terapresiasi pada perdagangan Rabu (12/9), saat mayoritas mata uang di Asia melemah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah rebound dan berakhir menguat 24 poin atau 0,16% di level Rp14.833 per dolar AS. Nilai tersebut sudah melebihi asumsi makro untuk APBN 2019 yang diperkirakan berkisar Rp14.400.

Direktur Penelitian Core Indonesia Piter Abdullah menilai sejauh ini APBN masih menjadi instrumen yang terus mengalami perbaikan. Hal ini terlihat dari indikator menurunnya defisit anggaran dan primary balance yang mendekati 0%.

"Sampai sejauh ini, APBN 2018 memang menunjukkan perbaikan terutama dilihat dari indikator menurunnya defisit dan primary balance yang semakin baik bahkan surplus. APBN yang sehat ini terutama disebabkan penerimaan yang sesuai target baik dari penerimaan pajak maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)," jelasnya kepada Bisnis, Rabu (12/9).

Menurut Piter, tren perbaikan kepatuhan pajak yang terjadi tahun ini mesti diperhatikan keberlanjutannya pada 2019.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menegaskan pemerintah berkomitmen untuk terus menjadikan kondisi APBN tetap sehat.

"Jadi, kalau APBN sehat maka kami akan bisa gunakan instrumen ini menjadi lebih baik lagi sesuai fungsi APBN fiskal sebagai stabilisasi alokasi dan distribusi," ujarnya, beberapa waktu lalu di DPR.

Pasalnya, ketidakpastian kondisi global turut menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, sebagai imbas banyaknya arus modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia ke AS.

Namun, dengan pelemahan rupiah sebesar Rp100 per dolar AS, terdapat kenaikan pendapatan lebih tinggi daripada pembengkakan belanja negara.

"Kalau dari sisi APBN 2018, dari setiap pelemahan Rp100 kurs rupiah kita terhadap dolar, pendapatan naik Rp4,7 triliun dan belanja naiknya Rp3,7 triliun. Karena kenaikan penerimaan itu lebih tinggi dari belanja, maka balance-nya positif sebesar Rp1,6 triliun," terang Menkeu.

Tetapi, Sri Mulyani menyatakan pemerintah tidak akan melihat kondisi depresiasi rupiah tersebut sebagai hal yang menguntungkan.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, RAPBN 2019
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top