IMF Puji Langkah Indonesia Hadapi Aksi Jual

“Untuk sekarang, menurut kami situasinya telah lebih terkendali. Tapi, [pembuat kebijakan] tetap perlu waspada dan memonitor situasi dengan hati-hati di dalam menghadapi kerentanan yang datang dari penularan yang terjadi di eksternal,” ujar Luis Breuer, Chief for Indonesia dari IMF.
Dwi Nicken Tari | 14 September 2018 15:32 WIB
Kantor pusat International Monetary Fund (IMF) di Washington, AS. - Reuters/Yuri Gripas

Bisnis.com, JAKARTA—Dana Moneter Internasional (IMF) mendukung langkah yang diambil Indonesia di dalam merespons aksi jual yang melanda emerging market beberapa waktu ini. The Fund menyebut suku bunga yang lebih tinggi dan intervensi valuta asing merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi volatilitas.

Namun, Luis Breuer, Chief for Indonesia dari IMF mengingatkan agar otoritas jangan sampai lengah dan berpuas diri. Namun harus meneruskan upaya untuk mengurangi risiko yang membuat ekonomi Indonesia rentan terhadap arus modal keluar.

“Secara keseluruhan, respons kebijakan sudah sangat tepat. Tapi, situasi bisa berubah dengan cepat pula dan [pembuat kebijakan] harus selalu waspada,” kata Breuer melalui telepon dari Washington, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (14/9/2018).

Adapun Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara belakangan ini telah terguncang akibat gejolak di pasar negara berkembang (emerging market). Rupiah tumbang ke level terendahnya sejak dua dekade terakhir, atau hampir mencapai Rp15.000 per dolar AS pada bulan ini.

Bank Indonesia pun menjadi bank sentral yang paling agresif di Asia dengan menaikkan suku bunga acuan sebanyak empat kali sebesar 125 bps dan menguras cadangan devisa hampir 10% pada tahun ini.

Di saat yang sama, pemerintah Indonesia juga mengambil langkah untuk mengurangi risiko terjadinya arus modal asing keluar (foreign outflow), memperketat impor dan mengendalikan defisit neraca berjalan sebesar 3% dari produk domestik bruto (PDB).

“Untuk sekarang, menurut kami situasinya telah lebih terkendali. Tapi, [pembuat kebijakan] tetap perlu waspada dan memonitor situasi dengan hati-hati di dalam menghadapi kerentanan yang datang dari penularan yang terjadi di eksternal,” ujar Breuer.

Dia menambahkan bahwa intervensi pasar keuangan yang diambil BI untuk menghindari kondisi pasar keuangan yang tidak terkendali juga merupakan langkah yang tepat. “Tidak berusaha menyesuaikan nilai tukar di tingkat tertentu adalah kesalahan,” kata Beuer.

Adapun komentar IMF tersebut disampaikan sebulan sebelum acara pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia (IMF-WB Annual Meeting) di Bali, Indonesia.

Sejah ini, The Fund telah memberikan penilaian yang positif untuk ekonomi dan reformasi bisnis yang dijalankan pemerintah Indonesia sejak krisis keuangan Asia menekan Indonesia pada 1998.

Di dalam sebuah buku yang diterbitkan menjelang IMF-WB Annual Meeting, IMF menyampaikan bahwa Indonesia masih memerlukan lebih banyak aksi kebijakan untuk jangka panjang agar pertumbuhan dapat terus tertopang.

Khususnya, menurut IMF, kelanjutan reformasi dibutuhkan untuk meningkatkan hukum ketenagakerjaan yang “kaku”, membuka sektor untuk investasi asing, dan mengurangi pengaruh badan usaha milik negara (BUMN) di dala perekonomian.

“Jelas sekali fundamental ekonomi Indonesia telah berubah secara dramatis dalam 20 tahun,” puji Breuer.

Tag : imf
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top