Perang Dagang AS-China Diperkirakan Belum Akan Reda Dalam Waktu Dekat

Perang dagang antara Pemerintahan AS dengan China kian menunjukkan pola yang dapat ditebak, sehingga siapapun kini sepakat bahwa resolusi dari kedua belah pihak tidak akan didapatkan dalam waktu dekat. 
Dwi Nicken Tari | 16 September 2018 13:27 WIB
Presiden China Xi Jinping (kiri) dan Presiden AS Donald Trump. - .Reuters/Toby Melville

Bisnis.com, JAKARTA — Perang dagang antara Pemerintahan AS dengan China kian menunjukkan pola yang dapat ditebak, sehingga siapapun kini sepakat bahwa resolusi dari kedua belah pihak tidak akan didapatkan dalam waktu dekat. 

Sehari setelah pasar keuangan di seluruh dunia bernafas lega karena berita baik tentang Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin telah mengundang China untuk kembali ke meja perundingan, Presiden AS Donald Trump justru mengacaukan harapan tersebut.

“Kami tidak berada di dalam tekanan untuk membuat kesepakatan dengan China, mereka yang di bawah tekanan untuk membuat kesepakatan dengan kami,” kata Trump lewat akun Twitter-nya, pekan lalu, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (19/9/2018).

Trump mengatakan bahwa pasar AS kini melonjak sementara pasar China merosot. Oleh karena itu, lanjut Trump, AS akan segera memberlakukan miliaran tarif untuk China dan kembali merakit produknya di dalam Negeri Paman Sam untuk semakin menekan Negeri Panda.

Setelah mengungkapkan hal tersebut, tidak berapa lama Trump pun menginstruksikan pertemuan pejabatnya untuk membicarakan pemberlakuan tarif untuk produk impor asal China yang senilai US$200 miliar. 

“Follow-up tarif dari Presiden dilakukan kendati Menteri Mnuchin tengah mendekati Beijing,” kata seornag sumber yang mengerti jalannya diskusi.

Adapun langkah Trump tersebut memperlihatkan bahwa dia kembali meremehkan pejabat senior China di depan publik terkait pembuatan kesepakatan untuk menyelesaikan perselisihan antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Hal itu pula lah yang membuat Beijing semakin frustrasi dalam berhubungan dengan Pemerintahan AS belakangan ini karena Trump terus-menerus memberikan sinyal untuk menambah tekanan kepada China.

Hal serupa juga terjadi pada tahun lalu ketika Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Mar-a-Lago dengan Presiden China Xi Jinping. Kala itu, Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross diberi manfat untuk menegosiasikan kesepakatan 100 hari dengan China yang dimaksudkan bakal menjadi kesepakatan besar pertama antara AS-China.

Namun, tidak berapa lama, Ross dan tim-nya langsung dikritisi oleh Trump akibat tampak terlalu patuh dengan China. Sejak saat itu, setiap komitmen yang dibawa Ross ke hadapan Trump selalu ditolak.

Begitu pula saat Penasihat Ekonomi Utama China Liu He mendatangi Kantor Oval pada Mei, beberapa hari setelahnya Trump justru mengumumkan kebijakan yang bertolak belakang dari apa yang telah disepakati dengan Liu He.

Pada saat itu, Mnuchin menyampaikan bahwa perang dagang antara AS dan China akan “ditahan dulu”, tapi Trump ternyata tetap memberlakukan tarifnya.

Alhasil, menurut sumber yang dekat dengan pejabat China, Mnuchin dipandang tidak dapat dipercaya oleh pejabat di Beijing.

“Mereka [AS] jelas sekali terbuka untuk penawaran karena AS ingin membawa perselisihan dagang ini menjadi suatu resolusi. Tapi saya sangsi AS akan memberikan mandatnya kepada Mnuchin,” kata Eswar Prasad, mantan Kepala Divisi China di Dana Moneter Internasional (IMF).

Dia menambahkan bahwa Pemerintah AS saat ini juga pasti tidak yakin bahwa Mnuchin dapat membuat kesepakatan karena Mnuchin telah dipandang sebagai seseorang tidak berpengaruh.

Pada perkembangan terpisah, menteri-menteri perdagangan untuk negara kelompok 20 (G20) telah menyampaikan "keperluan mendesak" untuk segera mereformasi Organisasi Dagang Internasional (WTO).

Menurut pernyataan yang dirilis setelah pertemuan di Mar del Plata, Argentina, pada Jumat (14/9/2018), menteri perdagangan negara G20 sepakat bahwa negara-negara anggota WTO perlu mempercepat dialog untuk meminimalisir risiko, memperkuat keyakinan perdagangan global, dan memperbaiki WTO.

"Kami sama-sama memandang, penting untuk membuat proposal kepada WTO agar lebih responsif terhadap tantangan perdagangan global saat ini," kata Menteri Luar Negeri Argentina Jorge Faurie.

Menteri Industri dan Perdagangan Spanyol Reyes Maroto menyampaikan pula bahwa negara G20 selanjutnya akan bertemu pada November untuk mendiskusikan reformasi WTO di tingkat teknikal.

Faurie pun mengonfirmasi pernyataan tersebut dan menambahkan bahwa agenda pada November belum ditentukan saat ini.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top