IMF Ingatkan Inggris Soal Brexit

Dana Moneter Internasional (IMF) meminta agar Pemerintahan PM Inggris Theresa May segera mendapatkan kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa.
Dwi Nicken Tari | 17 September 2018 21:21 WIB
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Dana Moneter Internasional (IMF) meminta agar Pemerintahan PM Inggris Theresa May segera mendapatkan kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa.

IMF menyebut bahwa segala opsi bagi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa memiliki harga. Namun, keluar dari UE tanpa kesepakatan dapat membuat perekonomian Inggris membayar harga yang tidak sedikit dibandingkan kerugian yang diterima ekonomi UE.

“Hingga kesepakatan tercapai, ketidakpastian Brexit akan terus memberatkan investasi,” kata institusi yang berbais di Washington tersebut, seperti dikutip Reuters, Senin (17/9/2018).

Adapun IMF memperkirakan pertumbuhan Inggris akan moderat di sekitar 1,5% pada tahun ini dan tahun depan—perkiraan yang berlandaskan data pakta peradgangan dan proses Brexit yang lancar.

“Brexit yang disruptif hanya akan memberikan hasil yang lebih buruk,” kata Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde.

Di dalam konferensi pers bersama Lagarde, Kanselir Inggris Philip Hammond juga menyampaikan bahwa Inggris harus mempertimbangkan peringatan IMF tersebut. Pasalnya, hal itu sangat vital bagi tercapainya kesepakatan Brexit.

“Brexit tanpa kesepakatan mungkin saja, bukannya tidak mungkin,” ujar Hammond. 

Adapun saat ini, May masih mencoba untuk menjaga kedekatan hubungan perdagangan dengan UE. Namun, langkah tersebut banyak tidak sepakati oleh Euroskeptics. Pasalnya, pilihan May tersebut seakan mengkhianati visi Brexit yang ingin dicapai, yaitu Inggris yang bebas menentukan aturan dagangnya dengan siapa pun.

Peringatan IMF terkait Brexit tanpa kesepakatan diumumkan beberapa hari setelah Gubernur Bank Sentral Inggris (BOE) Mark Carney bergabung dalam pertemuan kabinet untuk berdikusi tentang langkah yang akan diambil jika Inggris keluar dari UE tanpa kesepakatan.

Carney menjelaskan, skenario terbutuk dari Brexit tanpa kesepakatan yang disusun oleh bank sentral antara lain tumbangnya harga-harga rumah, melemahnya pound sterling, dan melambungnya tarif perdagangan.

Inggris dijadwalkan untuk meninggalkan UE pada Maret tahun depan tapi sampai saat ini London dan Brussels belum juga memperlihatkan kemajuan di dalam perundingan Brexit.

Tag : Brexit
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top