Proyek Infrastruktur Gencar, Tapi Konsentrasi Kredit masih di Jawa

Penyaluran kredit perbankan masih didominasi oleh debitur di Jawa. Pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan di luar Jawa masih belum mampu mendongkrak pertumbuhan kredit karena tidak ada sinkronisasi dengan pengusaha lokal.
Muhammad Khadafi | 20 September 2018 11:31 WIB
Jalan tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (MKTT) Seksi 1 Simpang Susun (SS) Tanjung Morawa-SS Parbarakan. - Istimewa/PT Jasa Marga

Bisnis.com, JAKARTA – Penyaluran kredit perbankan masih didominasi oleh debitur di Jawa. Pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan di luar Jawa masih belum mampu mendongkrak pertumbuhan kredit karena tidak ada sinkronisasi dengan pengusaha lokal.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2018, Jawa berkontribusi sebesar 74,8% dari total kredit yang disalurkan bank kepada pihak ketiga.

Sumatra menjadi wilayah penyaluran pendanaan kedua terbesar dengan total 11,7%. Pada periode yang sama daerah lain di timur Indonesia hanya memberikan sumbangsih kurang dari 5%.

Capaian tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi 4 tahun lalu. Pertumbuhan kredit di luar Jawa sempat berakselerasi lebih kencang sepanjang 2015—2017. Akan tetapi, pada semester I/2018, pertumbuhannya melambat.

Pada 2015—2017, secara akumulasi, kredit di Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nusa Tenggara Barat (NTB) tumbuh dua digit. Bahkan pada 2017 naik 24,5%. Paruh pertama tahun ini, kredit di wilayah tersebut hanya naik 10%

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, dominasi kredit di Jawa adalah masalah sedari dulu. Pembangunan yang tidak merata mengakibatkan permintaan kredit di wilayah lain lebih kecil.

“Sebenarnya lompatan [permintaan kredit] sudah cukup bagus sejak otonomi daerah. Itu sudah memacu perkembangan daerah, tapi belum bisa catch up [mengejar] Jawa,” katanya kepada Bisnis, Selasa (18/9/2018).

Pemerintaah saat ini memiliki niat baik untuk membangun infrastruktur di sejumlah daerah, termasuk juga wilayah timur Indonesia. Akan tetapi, hal ini tidak berdampak cepat terhadap perkembangan investasi area tertentu.

Berdasarkan hasil survei Piter, pemanfaatan proyek infrastruktur memerlukan waktu jangka panjang. Pasalnya dalam setiap pembangunan tidak ada upaya untuk mengajak pihak-pihak pengusaha berdiskusi soal pemanfaatan infrastruktur.

Piter melanjutkan, perbankan saat ini masih banyak mengandalkan sektor konsumtif untuk penyaluran pendanaan ke luar Jawa. Kredit produktif pun masih belum banyak terserap.

Dia memperkiarakan, kondisi ke depan bakal lebih mengkhawatirkan. Hal itu sejalan dengan kondisi likuditas perbankan yang mengetat sehingga akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit.

Hal ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Perkembangan ekonomi di satu daerah sangat tergantung dengan sumber dana yang dimiliki. Di sisi lain, permintaan sumber dana sangat tergantung dengan pertumbuhan ekonomi.
“Ini hukum sebab akibat. Permintaan kredit naik, suplai pasti akan ikut,” jelasnya.

Executive Vice President Consumer Credit Division BRI Sutadi Prayitno mengatakan daerah tertentu di luar Jawa tergolong baik. Namun hal itu hanya untuk pendanaan barang-barang fast moving consumer goods (FMCG).

Adapun sebelumnya, PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (Bank Sumut) memperkirakan pertumbuhan kredit akan semakin sulit tercapai. Permintaan belum sepenuhnya pulih, khususnya dari sektor produktif. Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia juga akan menjadi tantangan.

“Dengan suku bunga rendah saja tidak ada yang minta kredit, apalagi kalau bunganya tinggi. Kenaikan suku bunga itu membuat bisnis perbankan dan lembaga keuangan semakin menantang,” kata Direktur Utama Bank Sumut Edie Rizliyanto.

Menurut CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur dan destinasi wisata menjadi faktor pendorong pertumbuhan kredit di luar Jawa. “Kalau kami sendiri [di luar Jawa] kebanyakan fokus commercial banking dan kartu kredit di Medan dan Denpasar,” katanya.

Tag : perbankan
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top