Outstanding Obligasi BUMN Lampaui Swasta

Kalangan korporasi dari keluarga BUMN mulai mendominasi total outstanding obligasi korporasi pada tahun ini seiring makin aktifnya emiten-emiten BUMN menjajaki pasar obligasi dalam 3 tahun terakhir.
Emanuel B. Caesario | 22 September 2018 02:16 WIB
Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Kalangan korporasi dari keluarga BUMN mulai mendominasi total outstanding obligasi korporasi pada tahun ini seiring makin aktifnya emiten-emiten BUMN menjajaki pasar obligasi dalam 3 tahun terakhir.

Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo, total outstanding obligasi BUMN hingga Agustus tahun ini, termasuk sukuk, mencapai Rp251,8 triliun. Nilai ini sudah setara dengan 50,4% dari total outstanding obligasi korporasi yang beredar saat ini yang senilai Rp499,9 triliun.

Total outstanding surat utang BUMN ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2013 lalu, nilainya baru Rp71,5 triliun dan setara 33% dari total outstanding obligasi korporasi. Pada 2014, nilainya meningkat tipis menjadi Rp75,8 triliun, setara 34% dari total outstanding obligasi korporasi.

Nilainya mulai melonjak signifikan pada 2015 menjadi Rp97,2 triliun, lalu pada 2016 menjadi Rp136,2 triliun dan pada November 2017 menjadi Rp196,7 triliun. Pada November 2017, total outstanding oblgasi BUMN sudah setara 49% dari total outstanding obligasi korporasi.

Niken Indriarsih, Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pefindo, mengatakan bahwa meningkatnya emisi surat utang BUMN dibandingkan non-BUMN tidak mengherankan mengingat BUMN menjadi ujung tombak dari program percepatan pembangunan infrastruktur pemerintah.

Selain itu, nilai emisi dari BUMN juga umumnya lebih tinggi dibandingkan rata-rata korporasi swasta dalam beberapa tahun terakhir, sehingga dengan cepat nilai outstandingnya meningkat. Beberapa BUMN yang sejak lama tidak pernah menerbitkan obligasi, tiga tahun terakhir menjadi sangat aktif.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa BUMN tampaknya masih akan ekspansif untuk mengejar target infrastruktur pemerintah, sehingga emisi obligasi BUMN masih berpotensi terus meningkat.

Emisi obligasi BUMN ini banyak berasal dari sektor konstruksi, utilitas dan transportasi. Selain itu, sejumlah bank-bank BUMN juga gencar menerbitkan obligasi yang ujung-ujungnya adalah juga untuk pembiayaan kepada BUMN sektor riil, khususnya yang kurang mampu mengakses pasar surat utang karena peringkat yang kurang bagus.

Made mengatakan, tingginya emisi obligasi oleh BUMN berpotensi menyebabkan struktur keuangan BUMN menjadi sangat ketat seiring meningkatnya rasio utang BUMN atau mengalami overleverage. Untuk menekan resiko, pemerintah pun memberikan jaminan kepada beberapa surat utang BUMN.

PT Hutama Karya (Persero), misalnya, memiliki peringkat idA- dari Pefindo, tetapi surat utangnya yakni Obligasi Berkelanjutan I/2016 memiliki peringkat tertinggi yakni idAAAA lantaran dijamin oleh pemerintah.

“Ke depan masih terbuka BUMN akan semakin mendominasi pasokan obligasi di pasar. Di sisi lain, obligasi BUMN ini juga menarik bagi investor karena mereka merasa lebih aman, walaupun investor juga umumnya ingin yang kualitas surat utang dan emitennya sama-sama bagus,” katanya, Jumat (21/9/2018).

Nilai-nilai emisi obligasi BUMN tahun ini rata-rata tergolong jumbo dan terbukti terserap penuh oleh investor. Sepanjang semester pertama saja, ada 6 emiten BUMN yang terbitkan obligasi dengan total nilai Rp14,92 triliun.

Terbaru, pada Juli lalu PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) berhasil menerbitkan obligasi senilai Rp1,28 triliun dan sukuk Rp750 miliar. Kini, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. tengah melakukan proses penawaran umum Obligasi Berkelanjutan III Tahap III. Perseroan berharap bisa menghimpun dana hingga Rp1,5 triliun.

Tag : bumn
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top