BIS: Ekonomi Global Rentan, Suku Bunga Rendah Picu Perusahaan Zombie

Ekonomi global dinyatakan terlihat rentan dan bank-bank sentral di dunia mungkin akan tidak berdaya jika segala hal berjalan tidak seperti yang diharapkan.
Renat Sofie Andriani | 24 September 2018 08:12 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonomi global dinyatakan  rentan dan bank-bank sentral di dunia mungkin akan tidak berdaya jika segala hal berjalan tidak seperti yang diharapkan.

Claudio Borio, Kepala Departemen Moneter dan Ekonomi BIS (Bank for International Settlements), menggunakan Tinjauan Kuartalan terbaru BIS untuk kembali menyoroti bahwa bank-bank sentral memiliki banyak beban pascakrisis keuangan global.

Menurutnya, efek samping dari kondisi tersebut tidak dapat dihindari, termasuk gejolak pasar seperti yang terlihat di pasar negara berkembang (emerging market) dalam menghadapi langkah pengetatan kebijakan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve maupun apresiasi dolar AS.

Itu juga berarti bahwa para pembuat kebijakan akan tidak siap untuk kondisi kemerosotan berikutnya.

“Dengan suku bunga yang masih luar biasa rendah dan neraca bank sentral masih membengkak seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, 'tersisa sedikit obat untuk merawat sang pasien agar kembali sehat ataupun merawatnya jika kembali sakit',” jelas Borio, seperti dikutip Bloomberg.

Hal itu, lanjutnya, diperburuk reaksi politik dan sosial terhadap globalisasi dan multilateralisme.

Pekan lalu, OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) memperingatkan bahwa tensi perdagangan dan volatilitas pada emerging market menandakan bahwa pertumbuhan global telah bergerak mendatar, meskipun pemulihan akan terus berlanjut.

Dalam hal ini, Borio berpendapat bahwa apa pun yang terjadi, jalan pemulihan tidak akan mulus dan itu adalah akibat dari stimulus yang berlebihan selama bertahun-tahun. Penurunan pasar baru-baru ini dinilainya serupa dengan gejala penurunan kondisi seorang pasien.

Permasalahan di emerging market sangat bertolak belakang dengan perkembangan di negara-negara maju. Sejumlah indeks saham acuan di AS bahkan mencetak level tertinggi barunya pekan lalu. Ini pula yang dapat menjadi alasan kekhawatiran lain.

“Di atas segalanya, ada terlalu banyak utang. Para pembuat kebijakan dan pelaku pasar harus mempersiapkan diri untuk pemulihan yang panjang dan penting,” ujar Borio, yang dikenal kerap mengritik kebijakan moneter yang longgar.

Dalam tinjauan tersebut, BIS juga mengatakan suku bunga rendah selama bertahun-tahun telah melahirkan lonjakan perusahaan-perusahaan zombie - merujuk pada industri dengan kelebihan kapasitas yang hidup hanya dengan bantuan dari pemerintah dan bank - yang membebani produktivitas di negara-negara maju.

Kepala Ekonom Bank of England Andy Haldane sebelumnya telah mencatat hubungan antara tingkat suku bunga dan produktivitas. Namun ia berpendapat, suku bunga lebih tinggi – yang bisa mengakibatkan hilangnya pekerjaan karena beban terhadap perusahaan – menandakan bahwa hal itu tidak sepadan.

Meski mengakui dilema ini, BIS menyatakan bahwa melindungi perusahaan zombie bisa berakhir dengan menekan suku bunga lebih jauh.

“Suku bunga yang lebih rendah mendorong permintaan agregat serta meningkatkan pekerjaan dan investasi dalam jangka pendek,” papar BIS.

“Namun, prevalensi jumlah perusahaan zombie yang lebih tinggi sebagai akibatnya menempatkan sumber daya dengan keliru dan membebani pertumbuhan produktivitas. Jika efek ini cukup kuat untuk mengurangi pertumbuhan, itu bahkan bisa menekan suku bunga lebih jauh.”

Tag : ekonomi global, perekonomian
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top