FOMC Digelar Pekan Ini, Suku Bunga Acuan The Fed Diprediksi Naik 25 Bps

Federal Reserve diperkirakan bakal mengerek suku bunga acuan (Fed Funds Rate/FFR) dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pekan ini.
Dwi Nicken Tari | 24 September 2018 23:35 WIB
Gubernur The Fed Jerome Powell - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Federal Reserve diperkirakan bakal mengerek suku bunga acuan (Fed Funds Rate/FFR) dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pekan ini. Selain itu, bank sentral AS tersebut juga akan melaporkan perkiraan ekonomi dan laju kenaikan suku bunga (dot plot) hingga 2021.

Pejabat bank sentral AS telah memperlihatkan sinyal kenaikan suku bunga bakal dilakukan sebesar 25 bps, sehingga FFR akan berada di kisaran 2,00%—2,25%.

Selanjutnya, investor memperkirakan, kenaikan FFR akan dilakukan lagi pada FOMC Desember.

Adapun, Gubernur The Fed wilayah New York John Williams menilai perekonomian AS yang saat ini masih kuat—didukung oleh pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, tingkat tenaga kerja yang marak, dan inflasi dekat dengan target 2%—dapat menopang kenaikan suku bunga gradual yang telah dimulai oleh mantan Gubernur Fed Janet Yellen.

Namun kini, Gubernur Fed Jerome Powell-lah yang akan menjadi penentu laju dan batas kenaikan FFR tersebut ke depannya. 

Sejauh ini, perkiraan kenaikan suku bunga dan komunikasi The Fed ke depannya telah menjadi tidak pasti. 

Pasalnya, sejak menjabat Gubernur The Fed pada Februari, Powell memang telah memiliki caranya sendiri di dalam menyampaikan komunikasi dari bank sentral, mulai dari mengubah bahasa pernyataan kebijakan bank sentral menjadi “bahasa Inggris yang biasa” alih-alih menggunakan bahasa “ekonom Ph.D.” yang rumit, menggandakan jumlah konferensi pers setelah FOMC yang mulai berlaku pada tahun depan, dan penilaiannya terhadap paket perkiraan ekonomi yang akan dirilis The Fed setiap kuartalnya.

Ekonom pun khawatir bahwa perubahan yang dibawa Powell tersebut membawa potensi ‘jebakan’ dan skeptisisme Powell dapat mendatangkan risiko.

Adapun perkiraan ekonomi yang akan diumumkan oleh The Fed dalam FOMC nanti—termasuk dot plot perkiraan kenaikan suku bunga dari setiap anggota FOMC untuk tiga tahun ke depan—akan menjadi fokus perhatian pasar. 

Sebelumnya, Powell sempat menyatakan dalam konferensi pers FOMC Maret bahwa “komite tidak membuat pilihan atau menyetujui median [dot plot] apa pun.”

Powell mengakui, terkadang dot plot dan pernyataan kebijakan FOMC “tampak mengirimkan sinyal yang membingungkan” alih-alih memberikan kejelasan.

Oleh karena itu, sejauh ini masih sulit memperkirakan akankah Powell menghilangkan laporan dot plot tersebut pada FOMC pekan ini atau tetap mempertahankannya.

Kendati laporan dot plot tersebut memiliki kekurangan—pada 2016 sejumlah ekonom Wall Streets menilai dot plot tidak lagi memiliki manfaat—mantan ekonom The Fed Roberto Perli menilai bahwa menghilangkannya malah akan menjadi kemunduran bagi The Fed terkait transparansi kebijakan.

“Jika menghilangkannya [dot plot], maka mereka [The Fed] harus menggantinya dengan sesuatu yang lain. Kita tidak ingin kembali ke masa-masa kelam ketika kebijakan moneter ditentukan secara rahasia,” kata Perli yang kini menjadi mitra di perusahaan konsultan Cornerstone Macro LLC, Washington, seperti dikutip Bloomberg, Senin (24/9/2018).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kebijakan The Fed

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top