BCA Kelola 12 Desa Binaan

PT Bank Central Asia Tbk. hendak menambah desa binaan secara bertahap. Hal ini diharapkan dapat menggenjot kemandirian ekonomi masyarakat di setiap wilayah dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki.
Muhammad Khadafi | 24 September 2018 11:45 WIB
Nasabah bertransaksi di mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Jakarta, Kamis (11/1/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, YOGYAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk. hendak menambah desa binaan secara bertahap. Hal ini diharapkan dapat menggenjot kemandirian ekonomi masyarakat di setiap wilayah dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki.

Vice President Corporate Social Responsibility BCA Inge Setiawati mengataan saat ini ada 12 desa binaan. "Cara pembinaan masing-masing desa khas, seperti Pentingsari [Yogyakarta] itu fokus homestay," katanya di Desa Wirawisata Goa Pindul, Gunung Kidul, Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Inge mengatakan, pembinaan tersebut diharapkan dalam jangka panjang meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan. Selain itu dia juga berharap akan memunculkan nasabah-nasabah baru yang dapat memanfaatkan layanan finansial perbankan secara maksimal.

BCA telah melakukan pembinaan sejak 2012. “Saat ini belum ada yang [desa binaan] memanfaatkan fasilitas kredit, tapi ke depan harapannya mereka benar-benar bisa mandiri dengan skema kredit dari bank,” katanya.

Pembinaan awal yang dilakukan utamanya adalah pengelolaan sumber daya yang dimiliki. Pelatihawan awal dilakukan melalui seminar dan selanjutnya pendamingan kegiatan. "Setiap pendampingan kami monitoring dan dievaluasi," katanya.

Ketua Karang Taruna Desa Beji Harjo, Yogyakarta Yudan Hermawan mengatakan daerah wisata Goa Pindul adalah pionir dalam program desa binaan BCA. Wilayah ini bertranfsormasi dari masyarakat tani menjadi penyedia jasa.

"Dulu kami masyarakat tani. Kami selalu gelisah karena cuaca tidan tentu. Banyak juga yang tidak punya hasil panen,” kata Yudan.

Yudan mengklaim daerah wisata Goa Pindul telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebanyak ribuan orang terlibat mulai dari manajemen hingga pemandu wisata.

“Kalau dulu satu bulan 100—200 orang, sekarang bisa lebih dari 1.000 wisatawan. Penghasilan satu bulan bisa sekitar Rp200 juta dari situ,” jelasnya.

Hal serupa juga dikatakan Pengurus Desa Pentingsari, Yogyakarkata Doto Yogantoro. Dia mengatakan bahwa BCA sebenarnya masuk di saat desa yang dia kelola sudah tergolong sejahtera. Saat itu dalam satu tahun Pentingsari memiliki omzet sekitar Rp1 miliar.

“Tapi ternyata pengelolaan uang itu bermasalah. Setelah mendapat pembinaan, kamir reorganisasi dan omzet naik dua kali lipat,” katanya.

Saat ini Pentingsari menjadi benchmark desa berkonsep wisata di Indonesia. Desa yang berlokasi di Gunung Kidul ini pun sempat mendapat predikat terbaik dalam hal penerapan kode etik tingkat layak huni tingkat Asia Tenggara.

Komisaris Independen BCA Cyerllus Harinowo mengatakan Indonesia punya banyak potensi wisata. Menurut dia target pemerintah mendatangkan 20 juta wisatawan asing pada 2019 tidak mustahil. Asalkan semua pihak, termasuk perbankan mau berkerja sama.

“Seharusnya dengan maraknya tren wisata belakangan ini, para pengusaha itu sudah banyak yang lihat dan mencari sumber pendanaan dari bank,” katanya.

Begitu juga perbankan yang perlu lebih aktif menawarkan pendanaan ke daerah-daerah yang memiliki potensi wisata. Dengan demikian Indonesia bukan tidak mungkin melampaui negara tetangga dalam hal pariwisata.

Tag : bca
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top