BOJ Mulai Pertimbangkan Efek Samping Stimulus Longgar

Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Haruhiko Kuroda menyampaikan bahwa bank sentral telah memasuki fase di mana pembicaraan untuk masa depan program stimulus longgar bukan lagi mengenai pantas atau tidak, melainkan lebih kepada efek samping yang dapat ditimbulkannya.
Dwi Nicken Tari | 25 September 2018 19:49 WIB
Bank of Japan - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA—Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Haruhiko Kuroda menyampaikan bahwa bank sentral telah memasuki fase di mana pembicaraan untuk masa depan program stimulus longgar bukan lagi mengenai pantas atau tidak, melainkan lebih kepada efek samping yang dapat ditimbulkannya.

Dia juga mengungkapkan bahwa komitmen baru BOJ yang ingin menahan suku bunga di level terendah “selama beberapa waktu ke depan” bukan berarti suku bunga akan selalu berada di dekat level 0%. Artinya, bank sentral dapat menaikkan suku bunga sewaktu-waktu jika tingkat inflasi bergerak naik.

“Kami berharap dapat mencapai target inflasi 2% secepat mungkin dengan mempertahankan pelonggaran moneter ini, sehingga kami dapat mulai menormalisasi kebijakan moneter,” ujar Kuroda, seperti dikutip Reuters, Selasa (25/9/2018).

Kuroda menekankan untuk saat ini dia tidak akan mengubah komitmen tersebut karena hal itu tepat dilakukan di tengah-tengah inflasi yang masih berada jauh dari target bank sentral.

Kendati pernyataan terbaru Kuroda tersebut tidak mengindikasikan perubahan kebijakan, namun setidaknya pintu telah dibuka lebar untuk peluang pergantian kebijakan. 

Selain itu, pernyataan gubernur BOJ tersebut juga memperlihatkan bahwa otoritas moneter Jepang kini tidak lagi bisa mempertahankan stimulus longgarnya tanpa memikirkan efek samping yang dapat ditimbulkan kebijakan tersebut.

Adapun efek samping dari program stimulus longgar BOJ tersebut telah dirasakan oleh sektor perbankan Negeri Sakura. Suku bunga negatif terbukti membuat margin laba perbankan komersial menjadi sempit—yang juga menyebabkan inflasi sulit mendekati 2%.

Oleh karena itu, dalam risalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) BOJ Juli yang dirilis pada Selasa (25/9/2018), para pembuat kebijakan juga memperingatkan bank sentral agar mempertimbangkan beberapa risiko yang dapat dibawa oleh kebijakan ultra longgar, salah satunya adalah kerugian yang disebabkannya di dalam sistem perbankan.

Kuroda pun membenarkan bahwa upaya menaikkan inflasi ke target 2% memang membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang diperkirakan kendati tingkat upah dan harga telah mulai naik.

Dia menyebutkan, di bawah situasi harga dan perekonomian yang lumayan rumit seperti sekarang ini, kebijakan moneter yang diambil bank sentral harus mempertimbangkan setiap perkembangan yang terjadi di lapangan.

“Artinya, kita perlu mempertimbangkan dampak positif dan negatif di dalam melanjutkan kebijakan moneter longgar,” kata Kuroda.

Kuroda menambahkan, tidak akan ada pertambahan atau perubahan posisi BOJ selama bank sentral masih mencari “harga yang stabil” untuk menggairahkan perekonomian.

“BOJ akan terus memberikan dukungan kepada aktivitas korporasi, mempertimbangkan perkembangan ekonomi, harga, dan keuangan,” tuturnya.

Pernyataan tersebut yang tidak memberikan kutipan eksplisit mengenai target harga yang disinggung BOJ tampak sangat kontras dibandingkan pernyataan Kuroda pada awal tahun ini.

Sebelumnya, Kuroda berulang kali menyebut bahwa BOJ akan berjuang sekuat tenaga untuk mencapai inflasi 2% untuk ke depannya.

Dari sisi politik yang sempat menekan BOJ supaya menahan stimulus untuk mengurangi deflasi pun telah memberikan sinyal bahwa pemerintah kini lebih dapat menerima ide untuk keluar dari kebijakan moneter longgar tersebut.

PM Jepang Shinzo Abe pekan lalu menyampaikan bahwa tujuan kebijakan ekonominya telah tercapai, dengan tingkat pengangguran berada di level terendah dan perekonomian Jepang memperlihatkan tanda-tanda ekspansi.

Tag : boj
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top