Indef Sarankan BI Naikkan Suku Bunga

Bisnis.com, JAKARTA - Mendekati Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai bahwa RDG Bank Indonesia (BI) diproyeksikan kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin.
Puput Ady Sukarno | 26 September 2018 17:48 WIB
Hasil Rapat Dewan Gubernur Bisnis Indonesia Jumat 29 Juni 2018

Bisnis.com, JAKARTA - Mendekati Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai bahwa RDG Bank Indonesia (BI) diproyeksikan kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin.

Pasalnya, saat ini sudah hampir bisa dipastikan bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin.

"Untuk BI kita lihat stand-nya masih sama, akan ada adjustment 25 bps. Karena ini sudah hampir bisa di pastikan The Fed akan menaikkan setidaknya 25 bps," ujarnya saat ditemui di sela Seminar Hari Statistik Nasional di Gedung Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (26/9).

Menurutnya, untuk menghindari dana yang keluar, respons yang diambil BI selama ini dinilai sudah tepat karena memang tidak bisa mengandalkan yang lain selain cadangan devisa dan menaikkan suku bunga.

Namun demikian, lanjut dia, problemnya adalah BI yang sudah bekerja keras menjaga nilai tukar rupiah ini tidak dibarengi dengan langkah pemerintah yang seharusnya memitigasi agar bunga kredit yang semakin mahal sebagai imbas kenaikan suku bunga BI itu dapat menghajar di sektor riil di Tanah Air.

"Nah ini yang dari pemerintah kelihatannya belum disiapkan matang, jadi baru BI yang bekerja keras jaga sisi moneter tapi sisi fiskalnya bisa dikatakan tidur," ujarnya.

Jamin Kuatkan Rupiah?

Bhima juga menilai bahwa saat ini bukan lagi waktunya untuk membuat nilai tukar rupiah naik, akan tetapi justru mengambil langkah yang dapat menghambat tekanan dolar agar tidak terlalu menguat terhadap rupiah. "Jadi sekarang adalah mengambil upaya upaya yang sifatnya defensif," ujarnya.

Bhima bahkan memprediksikan bahwa dengan melihat kondisi yang masih diselimuti ketidakpastian saat ini seperti perang dagang antara AS-China, kenaikan harga minyak mentah saat ini yang makin menekan defisit transaksi berjalan, maka nilai tukar rupiah pada pengujung 2018 bisa menyentuh sekitar Rp15.200 per dolar Amerika Serikat.

"Angka Rp15.200/US$ di akhir 2018 itupun sudah bagus. Angka ini pun juga sudah mengakumulasi dari BI yang sudah menaikkan dua kali suku bunga acuannya," ujarnya.

Menurutnya, apabila Bank Indonesia (BI) tidak melakukan pernaikan suku bunga acuan, kurs rupiah diperkirakan bakal lebih parah dari Rp15.200 per dolar Amerika Serikat.

"Kita memang saat ini sedang menghadapi situasi yang paling buruk, bahkan lembaga internasional seperti JP Morgan menyatakan bahwa pada 2020 akan ada krisis skala besar di dunia. Jadi Kita harus preventif," ujarnya.

Oleh sebab itu, kata Bhima, saat ini tugas penting juga terdapat di pundak Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) adalah untuk memastikan bahwa jangan sampai ada bank yang gagal bayar, kemudian memastikan juga kesehatan dan likuiditas perbankan di Tanah Air cukup.

"Intinya kita sekarang preventif kondisi yang paling buruk terjadi. Dan ini cukup krusial juga karena bertepatan dengan pemilu sehingga stabilitas menjadi hal yang sangat penting," ujarnya.

Tag : suku bunga acuan
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top