FFR Berpotensi Lampaui Level Suku Bunga Netral The Fed

Bank Sentral AS (Federal Reserve) menaikkan suku bunga dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang berakhir Selasa (26/9/2018).
Dwi Nicken Tari | 27 September 2018 20:13 WIB
Gubernur The Fed Jerome Powell - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Sentral AS (Federal Reserve) menaikkan suku bunga dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang berakhir Selasa (26/9/2018).

Adapun kenaikan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 2,00%—2,25% tersebut merupakan kenaikan yang ketiga kalinya pada tahun ini. 

The Fed pun memperkirakan akan terus mengangkat suku bunga satu kali lagi pada Desember, sebanyak tiga kali pada tahun depan dan satu kali pada 2020 didukung oleh penguatan ekonomi AS selama tiga tahun ke depan.

Adapun langkah The Fed tersebut akan membawa sku bunga AS ke level 3,4%, atau hampir setengah persen poin di atas “suku bunga netral” yang ditetapkan oleh bank sentral.

Adapun yang dimaksud dengan suku bunga netral adalah posisi di mana suku bunga tidak menstimulasi maupun menekan perekonomian.

Selanjutnya, pengetatan kebijakan tersebut diperkirakan bakal tetap berlanjut hingga 2021, atau bingkai waktu terjauh yang ada dalam proyeksi ekonomi terbaru yang dikeluarkan The Fed.

Di dalam perkiraan ekonomi tersebut, The Fed pun menghilangkan kata “akomodatif” untuk kebijakan moneternya.

Akan tetapi, Gubernur Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa penghapusan kata tersebut tidak menunjukkan bahwa bank sentral akan mengubah arah kebijakannya dari pengetatan moneter secara gradual.

“Namun, itu adalah tanda bahwa kebijakan kami berjalan sesuai dengan perkiraan,” ujar Powell seperti dikutip Reuters, Kamis (27/9/2018).

Adapun kurva imbal hasil Tresuri AS bergerak mendatar dan indeks dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia setelah pengumumakn The Fed tersebut.

Begitu pula saham-saham di Eropa dan Asia berjatuhan pada perdagangan Kamis (27/9/2018) karena investor mengartikan pernyataan The Fed dengan kemungkinan kenaikan suku bunga bakal terus berlanjut hingga tahun depan.

Pernyataan The Fed dipandang telah memberikan amunisi yang sama kepada pihak dovish dan hawkish, dan membuat pasar kesulitan di dalam memprediksi arah kebijakan moneter ke depannya.

“Pasar memperkirakan 99% kemungkinan untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps dan memang tidak ada reaksi yang signifikan terhadap pengumuman The Fed hari ini,” kata Larry Hatheway, Kepala ekonom GAM Investment, seperti dikutip Bloomberg.

Tapi, dia menambahkan, investor harus bersiap bahwa The Fed dapat berubah menjadi ambigu dalam panduan kebijakan ke depannya, yang membuat pasar kesulitan memperkirakan keberlanjutan tingkat suku bunga di masa depan.

Sementara itu, beberapa investor menilai The Fed tidak perlu untuk terus menaikkan suku bunga karena tingkat inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda ikut naik kendati pertumbuhan ekonomi terus berlanjut dan tingkat pengangguran berada di level terendah selama dua dekade terakhir.

“Tiga kali kenaikan pada tahun depan tidak masuk akal,” kata Bob Baur, Kepala Ekonom Global Principal Global Investors di Des Moines, Iowa.

Menurutnya, dengan tambahan kenaikan suku bunga pada 2018 dan sekali lagi pada Maret tahun depan, suku bunga AS akan berada di level netralnya. Pasalnya, kenaikan inflasi yang lamban memberikan kesempatan kepada The Fed untuk menahan kenaikan suku bunga dan membiarkan pasar terbiasa dengan kebijakan moneter yang baru.

Tag : Kebijakan The Fed
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top