BCA: Masih Ada Ruang Penaikan BI 7 DRRR

Bisnis.com, JAKARTA — Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini, Kamis (27/9/2018), memutuskan menaikkan suku bunga kebijakan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75%.
Ilman A. Sudarwan | 27 September 2018 23:13 WIB
Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja memberikan penjelasan pada acara halal bihalal bersama wartawan di Jakarta, Rabu (4/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini, Kamis (27/9/2018), memutuskan menaikkan suku bunga kebijakan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75%.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa kenaikan suku bunga kebijakan sebesar 25 bps sudah sesuai ekspektasi yakni di kisaran 25 bps—50 bps. Dia memperkirakan sampai dengan akhir tahun BI-7DRRR masih akan naik 25—50 bps lagi.

Jahja menilai langkah BI yang langsung menaikkan suku bunga kebijakan setelah The Fed mengerek tingkat bunga pada Rabu (27/9) malam adalah langkah yang cukup tanggap.

Di sisi lain, Jahja mengungkapkan bahwa langkah perseroan untuk merespons kebijakan bank sentral ini baru akan dirumuskan pada pekan ini. Perseroan akan mempertimbangkan masalah kecukupan dana dan rencana peningkatan kredit.

“Kami akan rapat ALCO [Asset-Liability Committee] hari Jumat nanti, jadi saya belum bisa mendahului keputusan rapat, nanti kami akan pertimbangkan masalah kecukupan dana dan juga rencana peningkatan kredit, baru putuskan suku bunga mau naik lagi atau tidak,” ujarnya, Kamis (27/9/2018).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan keputusan menaikkan suku bunga kebijakan konsisten dengan upaya untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke batas yang aman dan mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik sehingga dapat memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian yang tinggi. 

"BI menghargai dan mendukung langkah konkret pemerintah untuk menurunkan defisit transaksi berjalan dengan mendorong ekspor, menekan impor yang diyakini akan berdampak positif menurunkan defisit transaksi berjalan," ungkap Perry dalam paparan RDG, Kamis (27/9). 

Dengan demikian, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan pada level 2,5% terhadap PDB.

Ke depannya, BI akan memperkuat dengan pemerintah dan otoritas terkait. Menurut Perry, BI juga akan terus mengawasi perkembangan di defisit transaksi berjalan, nilai tukar dan stabilitas sistem keuangan serta inflasi untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan.

Tag : bank indonesia, BI Rate
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top