Rupiah Jebol 15.000, Sentimen Global Diawasi & Defisit Dagang Ditekan

Pemerintah masih terus memperhatikan perkembangan sentimen global terhadap pelemahan rupiah, sembari terus berupaya mengefektifkan kebijakan-kebijakan yang sudah diambil seperti B20 dan memacu tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dalam proyek pemerintah.
Rinaldi Mohammad Azka | 02 Oktober 2018 18:21 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah masih terus memperhatikan perkembangan sentimen global terhadap pelemahan rupiah, sembari terus berupaya mengefektifkan kebijakan-kebijakan yang sudah diambil seperti B20 dan memacu tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dalam proyek pemerintah.

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Adriyanto menilai pergerakan nilai tukar masih didorong oleh dinamika eksternal.

"Pemerintah akan terus memantau perkembangan eksternal dan dampaknya ke dalam negeri. Kebijakan perbaikan defisit transaksi berjalan pun tentu terus dilakukan," ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (2/10/2018).

Menurutnya, kebijakan penanganan CAD merupakan kebijakan yang terukur dan tepat, sehingga bisa diharapkan dampak positifnya akan segera terasa.

Dia merinci kebijakan yang sudah dikeluarkan tersebut termasuk kenaikan tarif PPh pasal 22, B20, termasuk TKDN dan insentif devisa hasil ekspor (DHE). "Kita harapkan semua kebijakan ini akan cukup efektif," imbuhnya.

Dia pun optimistis kebijakan pengendalian impor terutama dari kenaikan tarif PPh Impor pasal 22 dan mandatori B20 akan terasa dalam waktu dekat. "Mudah-mudahan ada penurunan impor 1.147 barang konsumsi mulai bulan depan. Impor minyak dan gas pun mudah-mudahan bisa turun ketika penerapan B20 sudah berjalan lancar," jelasnya.

Dia pun mengakui sampai saat ini impor masih didominasi barang modal dan bahan baku yang tidak dikenakan kenaikan tarif, sehingga masih terjadi defisit neraca dagang.

Adriyanto pun memastikan tidak akan ada kebijakan mengurangi subsidi BBM dan alasannya bukanlah alasan politis. "APBN kita sampai sekarang masih bagus walaupun harga minyak naik. Jadi belum ada alasan penyesuaian harga BBM," tuturnya. Keseimbangan primer per Agustus 2018 masih dalam posisi surplus sebesar Rp11 triliun.

Sementara itu, Direktur Penyusunan APBN Ditjen Anggaran Kementerian Keuangan Kunta Wibawa Dana Nugraha mengungkapkan sampai saat ini APBN masih dalam kondisi yang sehat dan pruden.

Dengan demikian, APBN dapat digunakan sebagai bantalan dan menjadi insentif bagi perekonomian.  NIlai tukar rupiah melemah melampaui level Rp15.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (2/10/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,89% atau 132 poin ke level Rp15.043 per dolar AS setelah bergerak pada kisaran Rp14.945-Rp15.049.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top