Kepala BKPM Sebut Indonesia Butuh Pendanaan dan Infrastruktur Tahan Bencana

Gempa dan tsunami yang terjadi di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir dinilai menjadi momentum untuk membahas pentingnya memiliki infrastruktur tahan bencana serta pendanaan khusus untuk kesiapan bencana.
Annisa Margrit | 03 Oktober 2018 12:00 WIB
Warga melintas di dekat truk yang terjebak dalam tanah yang ambles pascagempa yang melanda wilayah Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018). - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA -- Gempa dan tsunami yang terjadi di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir dinilai menjadi momentum untuk membahas pentingnya memiliki infrastruktur tahan bencana serta pendanaan khusus untuk kesiapan bencana.
 
Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan ada banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari bencana di Lombok serta Sulawesi Tengah (Sulteng), termasuk dari sisi infrastruktur dan keuangan. 
 
Pertama, bagaimana memperkuat infrastruktur sehingga lebih tahan bencana. Misalnya, dalam periode rekonstruksi, jangan sampai membangun infrastruktur yang sama rawannya terhadap bencana seperti gempa, banjir, heatwave, dan badai.
 
"Ini mungkin juga bisa dibantu di sektor keuangan, misalnya bisa menjadi satu faktor kalkulasi dalam credit score atau kriteria pendanaan," terangnya dalam konferensi pers BKPM-HSBC Infrastructure Forum di Jakarta, Rabu (3/10/2018).
 
Acara tersebut turut disiarkan secara langsung melalui akun Twitter resmi BKPM. Lembong melanjutkan poin kedua adalah asuransi bencana.
 
Ketiga, infrastruktur untuk kesiapan bencana. Contohnya, bagaimana mendanai stok-stok barang yang dibutuhkan. 
 
"Terus terang, justru dengan pertumbuhan ekonomi, industri penanggulangan bencana atau sektor penanggulangan bencana harus mendapat lebih banyak perhatian dari sisi funding maupun dari sisi sektor keuangan secara umum," tuturnya.
 
Lembong menambahkan dirinya membayangkan ada fasilitas kredit yang bisa dimobilisasi dengan cepat untuk mendanai kebutuhan yang sangat mendesak di 72 jam pertama setelah suatu bencana terjadi. Pasalnya, waktu 72 jam atau 3 hari adalah waktu yang sangat kritis.
 
Misalnya, fasilitas kredit tersebut digunakan untuk membeli makanan dan minuman untuk segera dibawa ke lokasi bencana.
 
"Tapi, itu kan butuh dana, mungkin bisa pakai kredit untuk bisa langsung membeli makanan dan minuman dalam jumlah besar dan kemudian dibayar lewat donasi seperti yang dari Google, Apple, dan HSBC tadi," jelasnya.
 
Kementerian Keuangan disebut telah menyampaikan adanya kajian atas dana standby atau dana contingency sebagai bagian kesiapan bencana dalam Sidang Kabinet. 
 
Diskusi atas topik ini juga diharapkan dapat diangkat dalam IMF-World Bank Annual Meeting 2018 yang akan digelar pada pekan depan di Nusa Dua, Bali. Termasuk, dalam hal inovasi untuk menghadapi bencana. 
 
Contoh lain yang disampaikan Lembong terkait dengan industri 4.0. Bencana seperti gempa dan tsunami seringkali memutus aliran listrik ke masyarakat di lokasi yang terdampak.
 
Dengan memanfaatkan energi terbarukan seperti tenaga surya, maka situasi seperti itu bisa ditekan. Inovasi ini turut terkait dengan skema pendanaan yang dilakukan.
 
Jika menggunakan jaringan listrik konvensional maka pendanaannya lebih berupa project finance. Tetapi, jika memanfaatkan tenaga surya dan mendorong pemakaian panel surya di rumah-rumah warga, maka orientasinya lebih berupa consumer finance.
 
Adapun donasi dari Google, Apple, dan HSBC yang disinggung Lembong terkait dengan pernyataan ketiga perusahaan itu dalam hal pengiriman bantuan ke Indonesia untuk menangani bencana di Sulteng. 
 
Melalui akun Twitter resmi, CEO Google Sundar Pichai mengungkapkan pihaknya akan menyumbang US$1 juta untuk membantu penanganan bencana gempa dan tsunami di Palu, Donggala, dan wilayah sekitarnya. Selain itu, perusahaan teknologi itu telah mengaktifkan mekanisme SOS Alert mereka untuk memberikan informasi darurat kepada para korban.
 
CEO Apple Tim Cook pun turut menyampaikan duka cita atas bencana di Sulteng melalui akun Twitter resminya, Selasa (2/10). Perusahaan yang berbasis di AS itu berdonasi US$1 juta untuk penanganan bencana ini.
 
Sementara itu, Presiden Direktur HSBC Indonesia Summit Dutta menyebutkan pihaknya akan mendonasikan US$125.000 atau sekitar Rp1,8 miliar.

Tag : bencana alam, thomas lembong
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top