Powell Sambut Baik Kenaikan Upah di AS

Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) Jerome Powell menyambut baik kenaikan upah di AS baru-baru ini.
Dwi Nicken Tari | 03 Oktober 2018 15:35 WIB
Jerome Powell -

Bisnis.com, JAKARTA — Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) Jerome Powell menyambut baik kenaikan upah di AS baru-baru ini.

Selain itu, dia juga menunjukkan keyakinan bahwa tingkat pengangguran yang rendah di sana tidak akan memicu kenaikan inflasi yang dapat mendorongnya menaikkan suku bunga secara agresif.

Powell memaparkan bahwa kenaikan upah secara meluas di AS telah konsisten dengan tingkat inflasi dan pertumbuhan produktivitas tenaga kerja yang diamati bank sentral.

“[Tingkat upah] tidak menunjukkan pasar pekerja yang ‘overheating’. Selanjutnya, pertumbuhan upah yang tinggi sendiri tidak bersifat inflasi,” kata Powell dalam pidatonya di Boston, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (3/10/2018).

Powell menambahkan bahwa dia akan tetap dengan laju kenaikan suku bunga gradual yang dijalankan oleh The Fed sambil memantau risiko yang dapat muncul di dalam kondisi sekarang ini, yaitu kondisi rendahnya tingkat tenaga kerja dan inflasi.

“Perpaduan langkah yang stabil, inflasi rendah dan tingkat pengangguran rendah, merupakan fakta bahwa kita masih berada di masa yang luar biasa,” ujar Powell.

Oleh karena itu, kata Powell, alasan bank sentral melanjutkan kebijakan normalisasi dengan menaikkan suku bunga secara gradual adalah untuk menyeimbangkan risiko yang tiba-tiba dapat muncul di masa “yang luar biasa” tersebut.

Selain itu, dengan kebijakan sekarang ini, Powell mengharapkan The Fed dapat memperpanjang ekspansi ekonomi yang masih berlangsung, di mana tingkat tenaga kerja berada di level maksimumnya serta tingkat inflasi rendah dan stabil.

Sederhananya, Powell seolah-olah ingin mengerek suku bunga sewaktu-waktu jika ekonomi bergerak terlalu ‘panas’, tapi tidak dalam laju yang terlalu agresif karena hal itu dapat menekan pertumbuhan ekonomi.

Data Pemerintah AS pun pekan lalu pun menunjukkan bahwa pendapatan per-jam rata-rata pada September naik 2,8% dari tahun sebelumnya, setelah naik 2,9% pada bulan sebelumnya dalam kenaikan tertinggi sejak 2009.

Powell yang mencermati data tersebut dan beberapa data lainnya untuk mengukur indikator upah utama menyampaikan bahwa laju pertumbuhan upah kini merata bergerak menuju 3%

Adapun pernyataan Powell tersebut disampaikan dalam kurun waktu kurang dari seminggu sejak The Fed menaikkan suku bunga untuk ke-tiga kalinya pada tahun ini.

Pejabat The Fed mengonfirmasi proyeksi ke depannya akan ada empat kenaikan lagi hingga akhir 2019.

Lebih lanjut, ketika ditanya mengenai dampak perang dagang, Powell menyatakan bahwa dia tidak melihat tanda-tanda bahwa hambatan dagang akan dapat menaikkan inflasi di AS.

“Tarif dapat menaikkan harga. Tapi pertanyaannya adalah, apakah level harga saja yang naik atau inflasi juga terpicu naik. Kami tidak melihat hal tersebut di dalam data,” tutur Powell sambil menambahkan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk menilai dampak kebijakan dagang.

Powell pun sepakat dengan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi global telah menguat dalam beberapa tahun terakhir, tapi dia tidak memberikan peringatan untuk pergerakan laju ekonomi ke depannya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi global masih sehat tapi telah berada di dalam tekanan kecil.

“Seperti dapat kita lihat di seluruh dunia bahwa masih ada gambaran yang positif, mungkin sedikit kurang positif tahun ini. Kita melihat perlambatan di ekonomi maju dan beberapa negara berkembang mengalami gejolak yang signifikan,” kata Powell.

Tag : ekonomi as, Kebijakan The Fed
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top